5 September, Pagi Itu…

Written by Oom Agung
Tuesday, 04 September 2007

Si Mami perutnya sudah mulai melilit.
Sore itu tidak bisa tidak harus berangkat ke Bidan Dien.
…-bukaan dua

MyDaddy, para YangTi dan Oom Vi yang pertama nemenin MyMom.

MyMom

Sepanjang sore hingga malam, MyMom Cuma bisa menahan nyeri dan tekanan dari kedung kandungan. Punggungnya mulai diurut-urut ringan untuk merangsang aku keluar.
Rasanya pasti sakit sekali.
Wajahnya acap terlihat meringis dan mengaduh pelan.

Tapi.. senyumnya tetap dipaksa mengembang,
meskipun Tante Len bawelnya gak tulung-tulung nasehatin SiMami ini-itu;
yang pasti sudah malas banget dia dengar Tongue out

Dan Aku… belum tiba pula saatnya untuk keluar.

Menjelang pukul 10 malam, kamar bersalin sudah disibukkan dengan persiapan-persiapan persalinan. MyMom mulai diberi “obat perangsang”. Dia ingin aku dilahirkan normal.

Di luar ada YangKung Bagyo, Oom Agung, Tante Lena, Oom Curry dan Oom Gandung. Sesekali para YangTi n MyDad bergantian keluar-masuk nemenin Mami yang mules-mulesnya semakin menjadi-jadi.

Bukan ku tak mau segera meredakan deritamu, Mom.. yang menahan hentakanku di perutmu. Tapi, waktuku memang belum kunjung datang.

Sejak tadi sore listrik PLN sudah 2 kali padam.

Para pengantar sudah tak lagi sabar. Dan banyolan-banyolan sudah mulai tak renyah terdengar. Akhirnya, sepakatlah kelompok ini dengan prediksi,”Mungkin baru besok siang bayinya lahir!” Seperti ada benarnya; kondisi tubuh MyMom tidak juga menampakkan adanya perkembangan. Dan sakitnya belum lagi bisa dihentikan.

Mati lampu untuk yang ke-5 kalinya. Oom Agung sendirian menunggu di luar. Ditemani 2 potong lilin dan setengah bungkus DjiSamSoe hasil paroh dua sama Oom Curry.

Di kejauhan, para kuli bangunan di atas gedung yang masih sekedar rangka, kian asyik bercengkrama dengan adonan molen dan merasa “jaya” karena di singgasana mereka sajalah lampu-lampu tembak itu menandas gulita malam.

Hampir pagi, suami Bu Bidan terbangun dan langsung sibuk dengan mesin diesel- pengganti listrik PLN. Suaranya meraung datar, memecah keisengan malam itu yang terasa sangat panjang. Tak lama sesudahnya, Kijang PLN lewat-kembali pulang- dan memupus kebanggaan Sang Diesel. Semua mulai “terang”.

Pukul 4 lewat, sebelum matahari pagi menampakkan senyumnya, Dokter Muda itu datang, keluar dari mobil silvernya. Tak berkata apa-apa dan langsung masuk ruang bersalin.

Hai Dok …!

(seolah kuhanya menunggu dokterku datang)..

… … …Yell

… …Yell

Innocent Puji Tuhan CryCry

Sample Image

Setengah lima, pagi itu,

ku diberi harapan baru..

menjadi putra Yandaku Happy – Bundaku Ani.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



  • %d blogger menyukai ini: