CERITA Tentang (MERASA TERTIPU) ASURANSI

CERITA Tentang (MERASA TERTIPU) ASURANSI


Ada orang (bahkan Banyak) yang MERASA TERTIPU ASURANSI, padahal asuransi dasarnya baik Sebelum memutuskan buka polis coba pelajari maupun tanyakan mengenai detailnya.

Ada CLAIM yg pasti tidak diganti oleh asuransi;

  1. Masih berada dalam masa tunggu (contoh masa tunggu rawat inap 30 hari, sakit kritis 90 hari, ada yg 1 tahun – 2 tahun untuk penyakit tertentu seperti sinus, cacat bawaan, kista dll) – Ach.., gak selama nunggu turunnya harga bb. Masih bias diterma lah…
  2. Polisnya lapse (ini neh yg sering kejadian, polisnya mati, eh pas mau claim gak bisa dan yg disalahkan asuransi) – Kalo gak bayar gmn dong? Turunin aja di stasiun berikutnya…
  3. Keadaan yg sudah ada sebelumnya, penyakit yg dikategorikan CACAT BAWAAN baik diketahui atau tidak. (jika tidak ada masa tunggu yg sekitar 1-2 tahun), jika tahu maka selamanya tidak diganti. Contoh udah menderita asma, jika masuk RS karena asma ya tidak diganti. – Bermain air basah, bermain api… ati² kebakaran
  4. Keadaan yg disembunyikan kemudian diketahui. Misalnya udah sakit kanker, terus gak ngaku, terus claim dan ketahuan, ya gak diganti juga biaya-biaya yg seolah-olah pihak asuransi menipu atau agent-nya tidak menjelaskan. – Wah, bahaya lagi nich,. Kata guru agama berbohong itu dosa.
  5. Biaya akuisisi (nah tiap asuransi berbeda, coba aja ditanya ke agen yg bersangkutan, total biaya akuisisi berapa, rata rata 205% dari nilai yg disetahunkan dibagi 5 tahun, tapi katanya manulife paling tinggi biaya akuisisnya. Prudential, Axa sekitar 205% total. Apa sih biaya akuisisi? Ini yg menentukan besar kecilnya pertanggungan asuransi. jadi kalo nabung misalnya 500rb, disetahunkan dulu hitungannya jadi 6 jt, bisa semua masuk premi atau 70:30 atau 50:50; 60:40 tergantung resiko tertanggung. misal biaya premi 4jt, tabungan 2 jt, jadi tahun pertama 4 jt premi diakuisisi semua, tahun kedua ada yg 60% ada yg 80% dari nilai 4jt, seterusnya 3-5 thn 15%, selanjutnya free, no akuisisi. Jadi jika ikut asuransi 500rb perbulan, oleh agennya dibuat 4jt:2 jt (proteksi : investasi),
    anggaplah disiplin selama sepuluh tahun, berarti total uang masuk
    6jt x 10 thn = 60 jt, akuisisi 205% x 4jt = 8jt-an lebih, biaya akuisisi tabungan 5%, berarti dari yg 2 jt diambil lagi 5%, sebagai fee pengelola dana, ini seh selama menabung atau top up. Buat apa biaya akuisisi? Ya ini incomenya asuransi. buat komisi agent yg rata rata 30% dari nilai premi selama 2 thn pertama, buat gaji karyawan, buat iklan, buat sewa gedung dll. – (hmm…. Boleh lah…, kl nggak nanti yg bayar gaji karyawannya siapa yach? Bisa di demo kl gak gajian :D)
  6. Biaya asuransi, nah ini beda ama akusisi, ini adalah biaya yg harus dibayar tiap bulan ke re-assuransi. Tiap orang berbeda tergantung usia, jenis kelamin, nilai pertanggungan. Ini dibayar selama kita ikut asuransi, jadi makanya di prudential ada yg protes bayar seumur hidup. Tapi, bukannya semua asuransi emang begitu? Asuransi akan mengasuransikan lagi nasabahnya ke badan re-asuransi, tapi ya tentu saja biayanya dipotong dari uang kita. – Biaya ibarat orang membeli atau membayar, kalo gak bayar ya gak dapet barang yg dibeli maupun vasilitasnya. Mis.: Gak bayar listrik = gelap, gak bayar PDAM = Bau (abis gak bias mandi sich…)
  7. Biaya administrasi, ya ini di charge selama kita punya account asuransi, kan kalo nabung di bank juga tetep kena charge selama kita masih punya rekening. Karena asuransi punya nilai investasi tinggi maka biaya asuransi dan biaya administrasi gak berasa. misalnya udah 10th dana terkumpul 50jt, setahun kan asuransi jika equity dari pengalaman bisa sampai 30% berarti ada untung 15jt, tahun depan uang kita jadi 65jt dikurangi misalnya biaya asuransi setahun rata rata 3-6 jt jika pertanggungan sedang, dikurangi biaya administrasi 35-50rb perbulan, yah anggap saja dipotong total 7jt, maka uang kita terkumpul 65 jt – 7 jt = 58 jt. – Itung² abunemen dech
  8. Biaya Polis, ini dibebankan sekali atau ketika minta duplikat polis atau polis hilang, rata-rata 100rb per polis. – Kehilangan tiket parkirakan dikenakan denda sebesar Rp.100.000,- dan harus menunjukkan STNK asli.

Jadi sekali lagi, sediakan waktu untuk mempelajari, bertanyalah. Apalagi kebanyakan dari kita ikut asuransi karena yg nawarin temen, keluarga, sodara jadi tinggal tanda tangan aja. Memang sebagian merasa rugi jika tidak terjadi apa-apa, tapi kalo apa-apa gimana? Yah namanya asuransi jadi mengalihkan resiko.

Saran aja, sebaiknya ikut asuransi selagi masih muda, karena kalo udah sedikit lebih tua biaya asuransinya menjadi lebih tinggi, kalo akuisisi jelas sama karena dihitung dari premi. Bila udah lebih tua, jadi rugi banget, tapi daripada enggak, gak ada yg ngalihin resiko donk?

Yang terjadi pada asuransi tradisional adalah karena tidak ada pertanggungan sakit kritis. Misalnya si A ikut asuransi B, terus kena jantung, boro-boro mikir bayar premi, karena gak ada pertanggungan sakit jantung ya gak diganti, karena gak bayar premi maka lapse, eh meninggal pas preminya lapse, ya waktu claim meninggal pastinya gak diganti. Kalo udah gini, yang disalahkan asuransinya. (Padahal…) Jadi bijak-bijaklah memilih asuransi.

Soal syarat-syarat claim, misalnya sakit kritis, memang ada syarat tertentu, biar ocre, ya minta aja ke agen-nya kapan bisa diclaim, minta dicopy polis yg udah ada (agen harus masuk asuransi yg ditawarkan dong), nah tanyakan ke dokter kenalan anda, apakah syarat ini masuk akal atau mengada-ngada dari pihak asuransi supaya susah claim? Biasanya dokter lebih mengerti karena biasanya syarat tersebut pakai bahasa medis.

Saya sekedar member info dan bukannya menganjurkan untuk ikut asuransi tertentu. Lebih baik mengerti detail daripada kemudian hari bete dan menyalahkan agen maupun pihak asuransi.

Berapa banyak seh orang yg bersedia meluangkan waktu untuk baca polis maupun bertanya detail? Saya yakin agen menerangkan secara detail dan banyak pasti calon nasabahnya pusing denger keterangan kepanjangan. Bila claim, sediakan waktu untuk datang ke customer service, diharapkan bisa lebih cepat prosesnya.

Selamat bertanya tentang asuransi.

Antonius Happy

Kode Agen : 00150452

Hp 1 : 021-3355 3037

Hp 2 : 0816 181 1378

E-Mail : prusafir78@yahoo.co.id

Web : www.safir78.co.nr

Iklan

10 Tips Mempertajam Memori

Siapa bilang penyakit lupa alias tidak ingat itu cuma konsumsi para lansia. Karena mereka yang masih muda-muda pun bisa saja mengidap penyakit tulalit alias pelupa layaknya yang tua-tua. Malu kan dibilang tulalit sama pacar?

Banyak faktor yang menjadi biang keladi munculnya gangguan kelupaan tersebut, mulai dari makanan yang dikonsumsi, pekerjaan yang menumpuk serta kesibukan-kesibukan lainnya.

Belum lagi dengan keakraban orang muda dengan berbagai perangkat teknologi moderen. Telepon selular, komputer, e-mail, hingga internet, disebut-sebut sebagai piranti teknologi yang bisa memaksa tubuh dan otak terus bekerja selama 24 jam.

Nah, hiruk-pikuknya aktivitas tersebutlah yang konon bisa memicu hilangnya kemampuan otak untuk mengingat-ingat. Namun begitu, gangguan kelupaan tersebut tetap bisa diatasi, kok. Dengan mengikuti beberapa tip sederhana ini, mudah-mudahan penyakit lupa tersebut bisa dihindari:

1. Fokuskan diri untuk mendengar dan kurangi berbicara. Pasalnya, dengan mendengar akan mendorong kita untuk lebih berkonsentrasi.

2. Disiplin berdiet. Melakukan diet sehat dengan mengkonsumsi makanan yang kaya protein, di samping juga buah dan sayuran, akan memberikan suntikan ‘tenaga’ bagi otak.

3. Usahakan untuk mengurangi bahkan mungkin menghindari pergaulan dengan mereka yang selalu berpikiran negatif. Sebaliknya kembangkan selalu pemikiran positif. Karena berpikir positif itu bisa menstimulir proses kerja otak.

4. Hindari mengkonsumsi makanan berlemak tinggi. Pasalnya lemak-lemak tersebut bisa menyumbat saluran arteri yang tengah menyuplai darah ke otak.

5. Baca, baca, dan baca. Banyak membaca dengan diselingi bermain puzzle merupakan latihan yang sangat baik bagi otak. Karenanya, isilah waktu senggang Anda dengan berbagai jenis bacaan, dari yang fiksi hingga yang berat sekalipun nggak apa-apa kok.

6. Minumlah vitamin, khususnya vitamin E dan suplemen yang mengandung unsur seng. Berbagai penelitian menunjukkan kalau kedua unsur tersebut bisa membantu memperlambat proses penuaan dini serta meningkatkan kemampuan ingatan.

7. Jangan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan. Terlalu banyak alkohol konon akan membunuh sel-sel otak secara perlahan-lahan, lho.

8. Rencanakan selalu aktivitas berinteraksi dengan orang lain. Karena yang namanya bersosialisasi itu konon bisa mengusir rasa malas pada otak.

9. Hindari mengkonsumsi obat-obatan yang tidak perlu. Menurunkan berat badan, tekanan darah, serta kadar kolesterol dalam tubuh terkadang lebih ampuh dengan diet dan olahraga ketimbang obat-obatan. Selain itu usahakan untuk mempelajari dan mengetahui efek samping dari obat-obatan yang Anda minum. Obat tidur misalnya, konon bisa mengakibatkan hilangnya memori.

10. Cobalah untuk menjadwalkan olahraga secara rutin dalam agenda Anda. Pasalnya, aktivitas tersebut bisa melancarkan sirkulasi darah ke otak.

Nah, selamat mencoba ya…biar nggak lagi disindir, “Belum Tua kok pelupa sih”.

Biasakan Anak Minta Maaf, Mengapa?

NOUVAL tiba-tiba nyelonong masuk ke ruang tamu sambil membawa mainan mobil-mobilan yang besar. Ia ingin menunjukkan pada mamanya kalau lampu mobil-mobilannya tidak bisa menyala. Tanpa disadari mobil-mobilan yang dipegangnya menyenggol gelas yang sedang dipegang Tante Irma, teman mamanya.

“Ah…,” Tante Irma terpekik kaget saat melihat sirop merah membasahi bajunya. “Aduh maaf ya, maaf….” seru Rani, sang mama, sambil sibuk mengambil tisu untuk mengelap tumpahan sirop. “Nouval, ayo minta maaf sama Tante Irma,” pinta Rani pada putranya yang berusia 2;8 tahun itu. Nouval hanya menatap sekilas sambil berlalu masuk ke ruang dalam. Aduh, malu-maluin saja, batin Reni.

Sudah berulang kali Nouval disuruh minta maaf saat melakukan kesalahan, tapi selalu responsnya hanya melihat sekilas sambil berlalu. Seakan-akan ia tidak bersalah sama sekali. Apa iya anak ini tidak menyadari kesalahannya?

Minta maaf atau menyesal terlalu rumit dilakukan batita, karena menurut Grady, MC, NCC., pakar konseling anak, di usia batita anak sedang berada pada fase egosentris dan belum mampu melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain. Baginya selama sesuatu tidak membuatnya kecewa, tidak mengusik barang-barang yang sedang digunakannya, berarti tidak ada masalah. Jadi kalaupun ia menumpahkan sirop ke baju tamu mamanya, merusakkan mainan, membuat adiknya menangis, itu bukan masalah.

BIASAKAN DULU

Tentu saja hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja, anak tetap harus diajarkan minta maaf, “Terlepas dari mengerti atau tidak, anak tetap harus dibiasakan untuk minta maaf saat melakukan kesalahan. Yang penting pembiasaannya dulu, seiring dengan bertambahnya usia, ia akan mengerti konsep maaf,” kata Anna Surti Ariani, Psi., yang berpraktik di beberapa tempat konseling psikologi di Jakarta.

Pembiasaan ini penting agar anak kelak memperoleh manfaatnya, antara lain:

Mengeluarkan diri dari rasa bersalah

Pada prinsipnya minta maaf adalah cara seseorang mengeluarkan diri dari rasa bersalah. Dengan meminta maaf diharapkan seseorang menyadari kesalahan dan muncul tekad untuk tidak mengulanginya lagi. Meski konsep ini masih sulit dipahami batita, tapi seiring dengan bertambahnya usia ia akan mengerti.

Melepas ketegangan

Bagaimanapun suasana menjadi tidak nyaman saat ada seseorang melakukan kesalahan. Umpamanya, Nouval yang menumpahkan sirop ke baju tamu, sejenak pasti muncul ketegangan, si tamu terpekik kaget, sang mama sibuk mengambil tisu dan tergopoh-gopoh minta maaf. Meski mungkin belum mengerti tapi anak tetap bisa merasakan ketegangan suasana. Nah, dengan minta maaf, segalanya bisa cair kembali. Anak pun akan mengamati, mamanya yang tadi cemberut setelah mendengar ia mengucapkan, “maaf,” bisa tersenyum kembali.

Memperbaiki hubungan dengan orang yang tersakiti

Dengan minta maaf anak mempunyai “pintu” untuk memperbaiki hubungannya dengan orang yang tersakiti. Contoh, ia tak sengaja merusak mainan temannya, setelah minta maaf sang teman mau bermain lagi dengannya.

4 Langkah Biasakan Anak Minta Maaf

Berikut 4 langkah sederhana cara membiasakan batita minta maaf:

1. Contoh langsung

Contohkan bagaimana seharusnya kata maaf diucapkan. Misal, orangtua tak sengaja menumpahkan susu anak, katakan, “Maaf ya, Sayang, Mama tidak sengaja menumpahkan susumu.” Begitu juga dengan kesalahan lain yang dilakukan. Dengan demikian diharapkan anak terbiasa melihat orang-orang terdekatnya mengucapkan maaf manakala melakukan kesalahan.

2. Tunjukkan penyesalan dengan bahasa tubuh

Lakukan kontak mata saat mengucapkan kata maaf, sehingga anak bisa merasakan penyesalan yang mengiringi permintaan maaf itu. Menggenggam tangan, memeluk erat, atau mencium juga akan dicontoh anak saat orangtua minta maaf dengan bahasa tubuh seperti itu. Namun sebagai catatan, tegaskan padanya bahwa pelukan dan ciuman penyesalan hanya boleh diberikan pada papa/mama/kakak/adik, sedangkan untuk teman/saudara/orang lain cukup dengan bersalaman. Bahasa tubuh juga efektif untuk batita yang komunikasi verbalnya belum lancar sehingga belum bisa mengucapkan kata maaf.

3. Dorong supaya bertanggung jawab

Selain mengucapkan maaf, minta anak untuk “bertanggung jawab” atas kesalahan yang dilakukannya. Umpama, ia menyenggol temannya sampai jatuh. Nah setelah minta maaf, jika temannya terluka, minta si kecil menyodorkan tisu/plester. Ini sebagai bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.

4. Berikan apresiasi

Setelah anak mengucapkan kata maaf, berikan apresiasi dalam bentuk pujian, seperti, “Wah, pintar, kamu sudah bisa minta maaf.” Hal tersebut sekaligus sebagai penguatan bahwa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diulanginya lagi di lain kesempatan.

PESAN PENTING

Selain cara, orangtua juga harus mengajarkan kapan kata maaf itu diucapkan, yakni saat menyusahkan orang lain, mencelakai orang lain, melanggar janji, melakukan hal-hal yang sudah dilarang, melakukan hal-hal yang tidak disukai orang lain, dan sebagainya. Dengan begitu, yang ditekankan adalah pesan untuk tidak mengulangi kesalahan, bukan semata-mata minta maaf tanpa mengerti alasannya.

Apa jadinya kalau anak yang bersalah tidak dibiasakan meminta maaf?

  • Anak tidak disukai dalam pergaulannya karena tidak biasa minta maaf setelah melakukan kesalahan. Ini akan berakibat pada perkembangan sosialnya. Apalagi kalau sikap masa bodoh ini terbawa sampai usia dewasa
  • Perkembangan emosinya tidak optimal karena dengan tidak mengakui kesalahan, ia tidak bisa menilai dirinya secara pas.

Jadi, say sorry… please!

Radang Tenggorokan pada Anak


Berbagai penyakit langganan anak balita seperti demam, batuk, pilek, diare tidak perlu dicemaskan. Berbagai penyakit ini merupakan penyakit ringan yang justru merupakan proses berlatih daya tahan anak.

Melalui berbagai penyakit ini anak akan semakin kuat. Ketika memasuki usia sekolah, anak semakin jarang sakit.

Dunia kedokteran dan statistik telah membuktikan bahwa 85% anak mengalami radang tenggorokan. Penyebabnya adalah infeksi virus. Anak memang sering terserang infeksi saluran napas atas termasuk radang tenggorokan ini. Sekitar 90% kasus radang tenggorokan yang disertai hidung berair, demam, dan nyeri telinga disebabkan oleh virus. 10% sisanya penyebab radang tenggorok adalah bakteri.

Oleh karena disebabkan oleh virus maka antibiotik tidak diperlukan. Infeksi virus seperti misalnya batuk, pilek, radang tenggorokan, sama sekali tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik. Infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya. Tubuh akan melawan dengan sistem kekebalan tubuh.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan malahan merugikan. Sebab, membuat anak menjadi resisten. Antibiotik menjadi tidak mempan melawan infeksi.

Pada kasus radang tenggorok yang disebabkan oleh bakteri tersering adalah bakteri Streptokokus. Gejala infeksi bakteri ini adalah tenggorokan yang berwarna merah daging dan tonsil yang mengeluarkan cairan. Pada kasus radang tenggorokan yang disebabkan bakteri antibiotik memang diperlukan.

Jika anak gelisah, rewel, sulit tidur, lemah, lesu karena radang tenggorokan, dapat dibantu dengan meredakan gejalanya. Tak selalu dengan obat. Mungkin dengan tindakan yang mudah dan sederhana dapat membantu menenangkan anak.

Seperti misalnya nyeri menelan diberikan tindakan banyak minum air hangat, obat kumur, lozenges, dan parasetamol untuk meredakan nyeri. Untuk demam, tindakannya banyak minum, parasetamol, kompres hangat atau seka tubuh dengan air hangat. Jika anak mengalami hidung tersumbat dan berair, diberikan tindakan banyak minum air hangat, anak diuap dengan baskom air hangat, dan diberikan obat tetes hidung.

Tidak perlu terlalu dicemaskan jika anak tidak sembuh dalam satu atau dua hari. Beberapa kasus radang tenggorok akibat virus akan sembuh setelah dua minggu. Bawa anak ke dokter bila gejala terlihat semakin berat.

Sembilan Kesalahan Ibu Baru


Sembilan Kesalahan Ibu Baru

Menjalani peran baru tidaklah mudah. Ada saja hal-hal yang semestinya tak dilakukan tapi terjadi.

Menjadi orang tua amat membahagiakan sekaligus membuat Anda gugup. Dibalik rasa bahagia, berputaran pertanyaan-pertanyaan seperti, “Bagaimana saya menjalani peran baru ini? Apa yang harus saya lakukan dalam merawat si kecil?”.

Sebagai ibu baru, Anda tentu ingin melakukan yang terbaik buat si buah hati. Namun, secara tak sadar, Anda kerap melakukan hal-hal yang mestinya bisa Anda hindari. Berikut inisembilan hal yang biasa dilakukan ibu baru. Jangan tiru, hindarilah!

1. Terlalu mendengar nasihat orang lain

Dalam minggu-minggu pertama sebagai ibu baru, Anda merasa gugup. Anda memerlukan betul masukan dari orang-orang di sekitar yang Anda kenal baik. Orang-orang di sekitar Anda pun cenderung memberi nasihat kepada orang tua baru seperti Anda. Ibu mertua, wah ini dia, mungkin menasihati agar Anda sebaiknya tidur dengan bayi Anda. Sebaliknya, kakak kandung Anda melarangnya. Anda pun bingung dibuatnya.

Alvin Rosenfels , M.D ., psikiater anak dan penulis buku Hyper-Parenting mengatakan, “Jika mengikuti setiap nasihat orang lain, Anda menghilangkan semua daya kreativitas Anda.” Ingatlah, intuisi sebagai orang tua adalah petunjuk terbaik bagi langkah yang akan Anda ambil.

2. Mengharap pasangan mengerti kelelahan Anda

Setelah hari yang panjang dalam merawat anak (menyusui, menggendong, mengganti popok dan sebagainya), Anda merasa semestinya pasangan mengerti kelelahan Anda. Anda tampaknya perlu sepakat dengan pasangan untuk berbagi tugas dalam mengurus si kecil. Jangan pula lupa menyempatkan pergi berdua untuk lebih mendekatkan hubungan Anda dan pasangan.

3. Berkorban tiada batas

Menyediakan waktu untuk diri sendiri perlu bagi ketenangan jiwa. Memang, Anda wajib merawat si kecil yang masih amat tergantung pada Anda. Tapi bukan berarti Anda tak boleh melakukan hal lain yang menyenangkan. Misalnya, menelepon teman lama atau keluar rumah untuk berbelanja atau berolahraga.

Elizabeth Silk , psikoterapis asal New York, Amerika Serikat, berkata “Jika jiwa gembira, Anda akan menjadi orang tua yang lebih baik.” Walaupun Anda merasa nyaris tak ada waktu untuk diri sendiri, curilah waktu barang satu-dua jam untuk melakukan hobi yang Anda senangi. Mendengarkan musik, misalnya.

4. Tidak percaya pasangan dapat merawat anak

Melihat suami memandikan si kecil, mungkin terbersit rasa khawatir, “Bisa enggak sih dia mandiin Dino?” Anda merasa lebih punya hak dan lebih terampil dalam mengasuh anak. Daripada memberi kritik, memberi perintah atau mendekat setiap kali suami merawat anak, lebih baik biarkan pasangan melakukannya sendiri. Mengasuh si kecil berdua tentu lebih menguntungkan daripada sendiri.

5. Cepat cemas

Wajar saja jika si kecil kadangkala tertular penyakit ringan seperti batuk, diare, dan demam. Hal ini tak perlu membuat Anda cemas berlebihan, seakan ia terserang penyakit yang tak dapat disembuhkan. Sebaiknya, sadari bahwa orang tua tidak dapat mengontrol semua kehidupan anak. Ia sakit bukan berarti Anda lalai mengurusnya. Yang penting dilakukan, belajarlah dari setiap kondisi yang Anda hadapi, jangan panik, santai saja.

6. Membandingkan anak Anda dengan anak lain

Ingatlah bahwa setiap anak berbeda. Sebaiknya jangan pernah membanding-bandingkan kecerdasan atau pertumbuhan anak Anda dengan anak orang lain. Masing-masing bayi berkembang sesuai kematangannya. Sepanjang pertumbuhannya masih berada di skala normal (yang bisa dilihat di Kartu Menuju Sehat), Anda tak perlu cemas.

7. Tidak tidur siang

Mungkin Anda sering mendengar nasihat ini: tidur siang saat si kecil juga tidur. Ini benar! James Maas, Ph.D , penulis Power Sleep , menyebutkan bahwa orang tua baru kehilangan waktu tidurnya sebanyak 400 – 750 jam dalam 1 tahun pertama usia anaknya. Istirahat yang cukup membuat jiwa dan pikiran lebih tenang. Ini pun dapat membuat Anda lebih santai mengasuh si kecil.

8. Membuang uang untuk keperluan anak

Melihat lucunya si kecil, rasanya Anda ingin mendandaninya setiap waktu. Tak sadar, Anda menghabiskan uang untuk membeli keperluan anak seperti baju, sepatu, dan topi. Jika ingin belanja keperluan bayi, lebih baik Anda bertanya pada orang tua lain yang lebih berpengalaman. Mereka bisa memberitahu, misalnya, jangan terlalu banyak membeli baju karena badan si kecil toh bertumbuh terus.

9. Kehilangan waktu berharga

Di tahap awal kelahiran anak, Anda mungkin berpikir, “Saya tak mungkin melupakan saat-saat membahagiakan ini.” Ternyata, begitu disibukkan oleh segala urusan perawatan si kecil, Anda seperti lupa waktu. Hari-hari berlalu begitu cepatnya. Tiba-tiba anak sudah mau masuk sekolah. Anda menyesal, mengapa tak menyimpan memorabilia? Karena itulah, Anda harus membuat jurnal perkembangan si kecil. Atau juga menyimpan foto-fotonya dalam album, menyimpan potongan rambutnya, dan sebagainya. Dengan begitu, kenangan mengenai perkembangan dan pertumbuhan si kecil dapat Anda buka kembali suatu hari kelak dengan penuh kebahagiaan.

6 Kekuatiran Ibu Baru


6 Kekuatiran Ibu Baru

(Tenang… Ini Dia Kiat Jitunya)

Banyak hal kecil ternyata membuat bingung para ibu baru. Anda juga merasakannya?

Semua orang yakin bahwa Anda dan pasangan saat ini tengah bahagia luar biasa. Namun sebagai ibu baru, kebahagiaan ini tak jarang disertai berbagai kekhawatiran, dari soal kondisi kesehatan sang bayi, ketidaktahuan cara merawatnya, sampai urusan kedekatan hubungan Anda dengan suami.

Tak perlu panik. Anda tidak sendirian, kok. Banyak ibu baru yang senasib dengan Anda. Mungkin seperti berikut inilah persoalan plus kiat mengatasinya.

1. Belum jatuh cinta

Kebutuhan si kecil akan cinta dan ikatan yang erat sejak dini dengan Anda, sang bunda, akan mempengaruhi keterampilan sosialnya dengan orang lain di kemudian hari. Sayangnya, kedekatan hubungan ibu dan bayinya yang baru lahir ini adakalanya tidak spontan terjadi.

Tak perlu kecil hati kalau Anda belum “jatuh cinta” pada si kecil kala pertama kali melihatnya. Kehadirannya memang mengubah ritme kehidupan Anda. Jadi Anda perlu waktu untuk menyesuaikan diri, bahkan perlu waktu untuk “belajar jatuh cinta” pada bayi Anda sendiri. Selain itu, proses persalinan yang sulit, kelelahan setelah persalinan, atau kondisi bayi yang menangis terus-menerus, bisa membuat Anda berdua stres.

Bagaimana jalan keluarnya? Cobalah berbagi dengan saudara atau teman. Biasanya dengan berbagi pengalaman, Anda akan lebih mudah menjalani saat-saat seperti ini.

Tips:

* Bonding dapat dimulai dengan menyusui bayi Anda sesegera mungkin setelah ia lahir. Kontak fisik dan kontak mata pertama dengan buah hati Anda merupakan cara utama untuk menghidupkan ikatan batin Anda dengan si kecil.
* Usahakan sering berdekatan dengan si kecil, hanya berdua! Cobalah memeluk, mengajaknya bermain, atau menyusui tanpa diganggu orang lain, sekalipun itu anggota keluarga Anda sendiri.
* Ingatkan pada diri sendiri “prestasi” Anda, yaitu melahirkan si buah hati dengan selamat.

2. Kok, tidur terus?

Pola tidur bayi baru lahir kadang-kadang memang agak aneh. Ia bisa tidur seharian di siang hari dan bolak-balik bangun di malam hari. Atau, siang malam maunya tidur terus, hanya benar-benar bangun saat ia lapar. Mengapa bisa demikian?

Ketika di dalam rahim, bayi tak pernah tahu perbedaan siang atau malam, dan biasanya hal ini terbawa sampai lahir. Anda tak perlu khawatir dengan hal ini, karena bayi memang akan tidur sesuai dengan kebutuhannya. Biasanya, lama-kelamaan ia akan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi, jika sudah lebih dari dua jam bayi Anda belum juga bangun, sebaiknya dibangunkan untuk diberi ASI.

Tips:

* Saat tidur di siang hari, Anda dapat meletakkan bayi di kereta dorong atau ayunan. Malam hari baru ditaruh kembali di boks-nya.
* Beri ASI menjelang bayi tidur malam. Ini akan membantunya terlelap tidur.
* Matikan lampu di malam hari, agar dia mengenal perbedaan siang dan malam.

3. Belum pandai menyusui

Jangan khawatir kalau ini yang terjadi. Sekalipun menyusui adalah proses alami, tak semua ibu (juga bayinya) langsung bisa lancar menjalani proses ini. Hari-hari pertama kelahiran bayi merupakan waktu penyesuaian dalam menyusui, baik bagi Anda maupun si kecil. Beberapa masalah seperti payudara bengkak, sedikit luka di puting akibat bayi belum bisa mengisap dengan baik, merupakan sebagian dari hal-hal yang mungkin akan Anda hadapi. Tak hanya soal kondisi payudara, banyak juga ibu baru yang khawatir bayinya tak dapat cukup ASI karena merasa ASI-nya terlalu sedikit. Padahal, setiap bayi berbeda. Pola minumnya tidak sama, begitu juga kebutuhannya.

Anda ingin tahu bayi Anda cukup mendapat ASI atau tidak? Bawa saja ke dokter dan timbanglah badannya. Kalau umur lima hari bobotnya terus turun barulah bisa dikatakan kemungkinan ia kekurangan minum.

Tips:

· Kondisi Anda yang tenang, relaks, dan sabar, sangat disukai bayi saat ia ingin menyusu. Jadi, inilah kunci utama menyusui. Asal tahu saja, bayi bisa merasakan hal ini. Jadi, agar menyusui berjalan lancar, tepis segala senewen dan gelisah.

· Berikan ASI sesuai kebutuhan bayi. Bila bayi Anda menangis karena kehausan, tak usah menunggu sampai tiga jam, segera saja susui dia.

4. Duh, tangisannya!

Menangis adalah satu-satunya cara bayi baru lahir berkomunikasi. Tetapi Anda bisa dibuat kalut juga mendengarnya, apalagi kalau belum bisa memahami penyebab tangisannya. Bayi biasa menangis karena:

* Rasa lapar. Begitu sudah disusui ia akan segera tenang atau tertidur kembali.
* Perut kembung. Mengatasinya, cobalah gosokkan minyak telon di punggung atau di telapak kakinya.
* Tak suka “rasa” ASI. Kalau ia menangis setelah Anda susui, cobalah ingat-ingat, makanan apa yang baru Anda konsumsi. Bisa jadi “rasa” makanan itu tidak disukainya atau membuatnya merasa kembung.
* Popoknya kotor. Kebanyakan bayi tidak suka popoknya basah atau kotor karena tinja.
* Merasa sendirian. Bukankah selama 9 bulan dalam rahim, selain mendengar suara-suara dari dalam tubuh Anda, ia juga merasakan kehangatan? Itu sebabnya, ada bayi yang baru merasa aman dan tenang jika ada orang di dekatnya.

Tips:

* Membedong bayi di bulan-bulan pertamanya akan membuat si kecil merasa hangat dan aman.
* Jika ingin menggendong sementara Anda perlu melakukan kegiatan di rumah, gunakan alat gendong, sehingga tangan Anda bebas melakukan berbagai kegiatan.
* Seandainya bayi terus-menerus menangis, konsultasikanlah ke dokter. Dikhawatirkan si kecil mengalami kolik atau gangguan lain dan perlu segera dapat penanganan dokter.

5. Mengapa begitu?

Sebagai ibu baru, secara alami Anda tentu ingin bayi Anda tampak “sempurna”. Tak heran kalau beberapa hal berikut ini membuat Anda khawatir.

* Ada semacam jerawat kecil di wajah bayi .
* Muncul kerak kepala (cradle cap), yakni semacam lemak yang menempel tebal seperti kotoran di rambut bayi.
* Kulitnya keriput seperti orang tua.
* Kulit ari di jari-jarinya dan di bibirnya mengelupas.

Jika Anda menemui hal-hal tersebut, tak perlu khawatir. Itu biasa terjadi pada bayi baru lahir. Tak perlu dilakukan hal khusus untuk mengatasinya, karena kebanyakan akan hilang sendiri.

Tips:

* Meski tak perlu khawatir dengan kondisi di atas, namun bila sangat mengganggu Anda, konsultasikan saja ke dokter agar tahu cara penanganannya yang tepat.
* Untuk kerak kepala, bisa Anda oleskan baby oil di kulit kepala bayi agar mudah terkelupas ketika dimandikan.

6. Tak terampil merawat

Anda belum terampil memandikan bayi, memakaikan baju, membersihkan kotoran atau mengganti popoknya? Tenang… Anda tak sendirian. Keterampilan seperti ini memang memerlukan latihan berulang-ulang. Makanya, sebelum pulang dari rumah sakit, mintalah bantuan pada perawat untuk mengajari Anda, apa yang perlu dilakukan sehubungan dengan merawat bayi baru lahir.

Setelah itu, cobalah Anda lakukan sendiri di rumah, dengan panduan atau dampingan perawat, bidan, atau mereka yang berpengalaman seperti ibu atau mertua Anda. Percayalah, dalam beberapa kali saja, pasti Anda sudah piawai melakukannya sendiri.

Tips:

· Cari referensi. Baca buku (Seri Ayahbunda dan beberapa rubrik di Ayahbunda banyak mengulas hal ini), browsing internet, dan jangan ragu bertanya pada orang yang lebih berpengalaman dalam urusan merawat bayi. Biasanya Anda akan menemukan banyak trik simpel yang memudahkan Anda dalam hal ini.

* Agar mudah dikenakan, pilihkan saja si kecil baju yang berkancing depan.
* Pastikan kepala bayi tersangga dengan baik ketika dimandikan atau dipakaikan bajunya.