Pentingnya Proteksi Dana Pendidikan

Pentingnya Proteksi Dana Pendidikan


Pengantar:

Rubrik EUREKA (Edukasi dan Ulasan Perencanaan Keuangan) ini mengunjungi pembaca setiap hari Jumat. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis. Pembaca dapat mengirimkan pertanyaan atau berkonsultasi seputar masalah-masalah perencanaan keuangan. Pertanyaan dapat dikirim lewat email: redaksi@sinarharapan.co.id, Faksimile Redaksi Sinar Harapan (021) 3912370, surat dialamatkan ke redaksi Sinar Harapan, Jalan Fachruddin No. 6, Jakarta 10250, dan bisa membuka di http://www.pembelajar.com/ISOL.

Manusia hanya bisa berharap, Tuhan jualah yang menentukan. Artinya, tidak semua tujuan dan keinginan manusia bisa tercapai sesuai harapan. Ada saja rintangan yang bisa menghambatnya. Demikian juga dengan dana pendidikan, uang yang kita kumpulkan selama berbulan-bulan bisa terhenti bahkan lenyap. Antisipasi risiko harus diperhitungkan karena kita sendiri tidak bisa mempre-diksikan, kapan musibah akan datang menimpa kita. Saat ini di Indonesia, proteksi dalam sebuah keluarga masih belum dilihat sebagai suatu kewajiban.
Bila Anda mengambil asuransi pendidikan atau dana pendidikan maka Anda boleh bernafas lega, karena secara otomatis tabungan Anda sudah diproteksi. Proteksi umum yang diberikan oleh asuransi biasanya hanya asuransi kematian. Jadi, bila ajal menjemput, Anda tak perlu khawatir mengatur dana pendidikan karena secara otomatis dana pendidikan akan langsung dapat dicairkan.
Misalkan, Anda membeli asuransi pendidikan dengan uang pertanggungan sebesar Rp 10 juta. Premi yang harus Anda keluarkan adalah Rp 500 ribu/enam bulan selama lima tahun. Tapi baru tiga tahun menyetor, Anda meninggal dunia, maka pihak asuransi akan langsung memberikan dana Rp 10 juta tersebut kepada ahli waris yang akan menerimanya.
Lain lagi bila Anda membeli tabungan dana pendidikan. Anda dapat menentukan tabungan yang Anda inginkan. Sebaiknya Anda sesuaikan dengan kebutuhan dana pendidikan di masa depan. Bila terjadi risiko, maka ada bank yang hanya meneruskan tabungan yang Anda lakukan selama jangka waktu yang telah Anda tetapkan sebelumnya. Ada juga bank yang memberikan penggantian sampai 300 kali dari tabungan bulanan. Secara umum penggantian hanya terjadi bila Anda meninggal dunia.
Tapi bila Anda merencanakan dengan menabung secara mandiri, maka sebaiknya Anda memperhatikan risiko-risiko yang mungkin terjadi yang dapat berdampak terhadap tidak tercapainya tujuan dana pendidikan yang diinginkan demikian pula bila Anda memiliki tabungan pendidikan maupun asuransi pendidikan. Beberapa risiko yang sebaiknya diperhatikan, yaitu PHK, penyakit, kecelakaan, cacat tetap, bahkan meninggal dunia.

Risiko PHK
Krisis ekonomi belumlah berlalu, hal ini berimbas kepada menurunnya kinerja dan produktivitas perusahaan. Tak heran, jika banyak perusahaan yang bangkrut. Akibatnya, para karyawannya pun banyak yang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK).
Jika pasangan Anda, baik suami maupun istri terkena PHK, maka Anda kesulitan melanjutkan setoran tabungan. Dengan terhentinya pemasukan secara regular maka akan sangat sulit bagi Anda untuk dapat mengalokasikan untuk tabungan pendidikan, untuk keperluan harian saja sangat sulit.
Karena itu, jika Anda hanya mempersiapkan dana pendidikan dengan menabung secara periodik per bulan di bank atau di dalam bentuk investasi lain (sebaiknya yang memiliki tingkat likuiditas tinggi), maka Anda bisa menghentikan terlebih dahulu dana pendidikan hingga Anda kembali bekerja. Namun, patut diingat, dengan menghentikan dana pendidikan untuk beberapa bulan akan berakibat tidak tercapainya target yang diharapkan.
Itu sebab, setelah bekerja kembali Anda harus memperbesar jumlah tabungan, sehingga dapat menutupi kekurangan akibat penundaan menabung karena PHK. Bila Anda memiliki asuransi dengan nilai tunai, maka Anda dapat meminjam maksimal 80 persen dari uang tunai yang telah terkumpul. Dengan dana tersebut Anda dapat meneruskan tabungan sampai Anda kembali bekerja, atau bila sangat mendesak Anda dapat gunakan jasa gadai sebagai sarana pinjaman jangka pendek.
Sekali lagi, cara di atas belum tentu tepat diterapkan untuk semua keluarga, misal, banyak karyawan yang di PHK mendapatkan uang pesangon yang lumayan besar. Nah, kita bisa memanfaatkan uang pesangon tersebut untuk membiayai kebutuhan sehari-hari sekaligus membayar setoran tabungan pendidikan anak. Tentu, sambil kita mencari pekerjaan lagi.

Tabungan Dana Darurat
Melihat risiko PHK tersebut di atas, kami sangat menganjurkan agar Anda memiliki Emergency Fund atau Tabungan Dana Darurat. Tabungan ini berperan sebagai benteng yang bertugas menjaga pertahanan ekonomi keluarga dari serangan mendadak. Manfaat yang bisa diambil dari tabungan ini adalah jika terjadi gangguan pada sumber dana seperti suami PHK, maka tabungan ini bisa menutupi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar setoran dana pendidikan anak.
Adapun besarnya dana darurat tersebut adalah berkisar tiga hingga enam kali gaji setiap bulan. Jadi jika sebuah keluarga memiliki pemasukan 5 juta rupiah setiap bulan, maka Emergency Fund yang harus dimiliki oleh keluarga tersebut adalah sekitar Rp 15-60 juta. Dana ini sebaiknya ditempatkan dalam bentuk investasi dengan tingkat likuiditas tinggi.
Namun, jangan lupa, Emergency Fund ini hanya bisa menutupi kebutuhan keuangan dalam jangka pendek (short term needs), yaitu sekitar 3- 6 bulan. Diharpakan dalam jangka waktu tersebut Anda dapat menemukan kerjaan baru dengan penghasilan yang regular.

Mengantisipasi Kematian
Bila Anda membeli, baik asuransi pendidikan maupun tabungan pendidikan, secara langsung Anda akan diproteksi terhadap risiko kematian. Secara umum proteksi tersebut berdasarkan uang pertanggungan untuk asuransi pendidikan dan cicilan bulan untuk tabungan pendidikan.
Tapi jika Anda menabung dana pendidikan secara mandiri, sebaiknya Anda mengambil asuransi jiwa yang memiliki uang pertanggungan sedemikian rupa, sehingga bila terjadi resiko kematian, maka pasangan atau ahli waris bisa mendapatkan Uang Pertanggungan dari perusahaan asuransi sesuai dengan kebutuhan. Lalu berapa besar Uang Pertanggungan yang harus kita ambil?
Total Uang Pertanggungan (UP) yang sesuai dapat dihitung berdasarkan dua pilihan.
Pertama, dengan mengambil jumlah total kebutuhan dana pendidikan. Misalkan total kebutuhan dana pendidikan sampai menyelesaikan S-1 adalah Rp 200 juta. Maka Anda dapat membeli asuransi berjangka dengan UP Rp 200 juta. Jangka waktu sesuaikan dengan lamanya Anda menabung.
Sedangkan pilihan kedua, dengan melihat kebutuhan tabungan bulanan yang harus diinvestasikan. Misalkan untuk mencapai tujuan dana pendidikan sebesar Rp 200 juta selama 10 tahun, Anda harus menabung sekitar Rp 980 ribu setiap bulan (asumsi bunga 10 persen). Berdasarkan ini, Anda bisa mengambil uang pertanggungan sebesar Rp 120 juta. Bila terjadi musibah meninggal dunia, maka keluarga yang ditinggal akan mendapatkan dana sebesar Rp 120 juta. Dana ini ditempatkan di deposito bulanan yang memberikan bunga sekiatar 10 persen/tahun, maka Anda dapat meneruskan kebutuhan dana tabungan dari bunga deposito bulanan tersebut.
Bila Anda menabung secara mandiri maka saran kami belilah asuransi berjangka, karena asuransi ini memberikan pertanggungan yang besar dengan premi yang murah.

Risiko Cacat
Cacat bisa terjadi akibat kecelakaan sehingga seseorang tidak mampu bekerja kembali, atau bisa juga karena penyakit berat seperti stroke. Semuanya jelas akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja seseorang, bahkan bukan tidak mungkin kecacatan tersebut akan membuatnya tidak bisa bekerja kembali.
Bila Anda sudah memiliki asuransi pendidikan maka Anda dapat menambahkan rider yang memberikan manfaat bila terjadi risiko cacat total maupun sebagian. Tapi bila Anda memiliki tabungan pendidikan maka hal ini tidak dimungkinkan. Karena yang mendasari tabungan pendidikan adalah jenis tabungan bukan asuransi. Bila Anda memiliki proteksi asuransi lain maka Anda dapat menambahkan rider cacat total maupun sebagian sebagai tambahan.

Kecelakaan dan Penyakit Kritis
Satu hal penting lain adalah risiko penyakit kritis atau kecelakaan. Kedua hal ini bisa sangat membebani keuangan Anda dan keluarga. Bila Anda memiliki asuransi pendidikan Anda tentu dapat mengalokasikan untuk menambah pertanggungan, seperti kecelakaan atau penyakit kritis sebagai rider.
Dengan begitu bila terjadi kecelakaan maupun Anda terdiagnosa penyakit kritis maka Anda dapat tetap meneruskan tabungan dana pendidikan bagi anak Anda. Tapi bila Anda memiliki tabungan pendidikan maka hal ini tidak dimungkinkan. Karena yang mendasari tabungan pendidikan adalah jenis tabungan bukan asuransi.
Dilihat dari berbagai kebutuhan proteksi akibat berbagai risiko diatas, maka satau hal yang harus dicermati dengan baik adalah jumlah dana yang harus Anda keluarkan untuk semua kebutuhan proteksi. Jangan sampai semua dana yang dapat Anda sisihkan hanya dapat menutupi semua hal diatas, tapi Anda mengabaikan tujuan lain yang Anda miliki.
Oleh karena itu perlu sebuah perencanaan yang menyeluruh, untuk dapat melihat semua kebutuhan dana untuk tujuan masa depan dana kebutuhan proteksi untuk menjaga risiko yang mungkin terjadi. Karena kompleksnya sebuah perencanaan keuangan keluarga yang menyeluruh, maka Anda dapat meminta bantuan konsultasi dari para perencana keuangan keluarga yang ada. Dengan begitu Anda dapat melihat keuangan keluarga Anda dalam arti yang lebih luas, bukan hanya sebatas perencanaan dana pendidikan untuk anak-anak Anda.

Sumber: www.sinarharapan.co.id


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



  • %d blogger menyukai ini: