Menjadi “Gembala Baik” di Lingkungan

Agar mampu memberdayakan dan menggerakkan umat, ketua dan pengurus lingkungan perlu memiliki banyak kemampuan, misalnya berkomunikasi (public speaking), manajemen organisasi, membuat kegiatan yang nyaman untuk diikuti umat, berbagi tanggung jawab, dsb. Untuk itulah Komisi-Komisi dan Pantap Pemikat KAJ perlu bekerja sama dengan paroki-paroki mengembangkan kemampuan para ketua dan pengurus lingkungan. Pelajaran itulah yang dihasilkan dalam Hari Belajar Komisi-Komisi dan Pantap Pemikat KAJ di Aula Kecil Paroki Katedral, Sabtu, 14 Maret 2009.

Kegiatan bertema “Mewujudkan Semangat Pastoral Gembala Baik di Lingkungan” tersebut diikuti oleh 37 utusan Komisi-Komisi dan Pantap Pemikat dan dihadiri Bapak Uskup Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ, beserta para staf beliau. Sebagai pelayan umat di tingkat Keuskupan, mereka belajar dari dua narasumber Antonius Inggil Paripurnanto dan Apollinaris, yang dimoderatori oleh Fr. Diakon Stefanus Tommy Octora Agung Surya.

Bapak Inggil dan Bapak Aris, begitu mereka akrab disapa, membagikan banyak pengalaman menggerakkan umat di tingkat lingkungan. Bapak Inggil adalah mantan ketua lingkungan St. Thomas Rasul di Paroki Pasar Minggu (Keluarga Kudus), sekarang Sekretaris II Dewan Paroki. Sedangkan Bapak Aris adalah Ketua lingkungan St. Maria IV di Paroki Ciledug (St. Bernadet)

Tantangan dan Siasat

 Menjadi gembala yang baik di lingkungan berarti mengupayakan jangan sampai satu umat pun “hilang” dari perhatian dan pendampingan Gereja. Ini bukan tanggung jawab mudah bagi ketua lingkungan seperti Bapak Inggil, yang mendampingi umat tak kurang dari 70 KK. “Domba yang hilang, dengan alasan apa pun, memiliki rasa enggan untuk berkumpul bersama karena adanya kebekuan atau penghalang,” jelas Bapak Inggil. “Untuk itu,” lanjutnya, “kami siasati (tantangan itu) dengan membuat event informal yang membuat suasana nyaman, misalnya dengan ziarah-rekreasi. (Kegiatan) ini menjadi sebuah icebreaking (pemecah kebekuan suasana).”

Kondisi umat yang sangat majemuk juga menjadi tantangan tersendiri bagi ketua lingkungan seperti Bapak Aris. “Ada kesenjangan ekonomi, sehingga umat yang kurang mampu merasa minder jika diajak bergabung dengan mereka yang lebih mapan,” jelasnya. Apalagi, ia mendampingi umat dalam situasi masyarakat yang kurang “ramah” pada kehadiran Gereja Katolik di Ciledug. Banyak umat tidak berkenan rumah mereka dijadikan tempat doa lingkungan karena takut. Untuk itu ia bersiasat mengunjungi umat secara “door to door”, misalnya melawat mereka yang sakit dan menggalang dana solidaritas. Atau, mengadakan ibadat dengan berdoa singkat tanpa nyanyian.

Namun, di luar itu semua, yang terus mereka disadari adalah pentingnya kekuatan doa. “Doa menjadi kekuatan dalam mengemban tanggungjawab kami sebagai ketua lingkungan,” tegas Bapak Inggil.

Rekomendasi: Pendidikan Ketua Lingkungan

Belajar dari pengalaman konkret di lingkungan-lingkungan tersebut, Komisi-komisi dan Pantap Pemikat KAJ merekomendasikan suatu program pendidikan bagi para ketua dan pengurus lingkungan. Program tersebut terbuka untuk diikuti seluruh ketua lingkungan di KAJ, diselenggarakan secara periodik dan terus-menerus (bukan hanya saat menjelang pergantian pengurus), dan dilengkapi modul-modul yang sesuai kebutuhan yang beragam. Setiap Komisi dan Pantap Pemikat bisa menyumbangkan kekhasan karyanya dalam program kerja sama tersebut.

Sumber : http://kaj.or.id

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



  • %d blogger menyukai ini: