10 Pertanyaan di Minggu Pertama Kelahiran Bayi

10 Pertanyaan di Minggu  Pertama Kelahiran Bayi

Orangtua seringkali banyak dikhawatirkan oleh kondisi kesehatan bayi yang baru dilahirkan. Tidak semua pertanyaan itu bisa dijawab sendiri tapi kadang harus berkonsultasi ke dokter. Apa saja permasalahan yang muncul di minggu pertama kelahiran bayi?

Pertanyaan yang paling sering diajukan orangtua pada minggu pertama kelahiran bayi seperti dikutip dari WbMD, Senin (25/7/2011).

1. Bagaimana saya bisa melindungi bayi saya dari sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)?
Cara terbaik untuk melindungi bayi dari SIDS adalah untuk selalu menempatkan dia tidur telentang. Tingkat kematian SIDS menurun secara signifikan sejak American Academy of Pediatrics meluncurkan kampanye ‘Back to Sleep’. Tanyakan kepada dokter mengenai langkah-langkah lain yang dapat Anda ambil untuk mengurangi risiko tersebut.

2. Apakah bayi langsung mengenali saya, dan apa yang harus saya lakukan jika ia tidak mengenali?
Banyak orangtua khawatir jika mereka tidak mendapatkan perhatian pada pandangan pertama ketika bayi mereka baru saja lahir. Cobalah bersabar hingga ikatan itu mulai terbentuk. Pada permulaannya memang tidak mudah untuk Anda atau bayi Anda dan akan memakan waktu cukup lama untuk mengenal satu sama lain.

3. Kapankah bayi saya harus menjalani pemeriksaan fisik pertama setelah meninggalkan rumah sakit? Apa yang akan terjadi saat pemeriksaan pertama?
Kebanyakan dokter menjadwalkan pemeriksaan pertama pada usia 2 minggu, terutama untuk bayi pertama. Tanyakan tentang vaksin dan tes skrining awal yang akan diterima bayi Anda. Semua bayi yang baru lahir harus diperiksa dan mulai mendapat imunisasi rutin pada usia 2 bulan.

4. Bagaimanakah seharusnya merawat tali pusar bayi dan area sunat?
Dokter Anda dapat memberikan petunjuk rinci untuk merawat tali pusar bayi dan area sunat. Dokter juga dapat menyaranka apa yang harus diperhatikan mengenai infeksi.

5. Seberapa lama bayi saya akan tertidur, dan bagaimana saya bisa tahu jika ia tidur terlalu banyak?
Bayi yang baru lahir banyak tidur selama hari-hari awal mereka. Dokter Anda akan dapat memberitahu apa yang normal dan apakah Anda harus membangunkan bayi untuk memberi makan.

6. Seberapa sering bayi harus diberi makan, dan bagaimana saya mengatasi permasalahan menyusui?
Tanyakan dokter Anda atau staf rumah sakit untuk nama-nama konsultan laktasi sekadar berjaga-jaga apabila Anda memiliki masalah menyusui. Seorang konsultan ASI yang memenuhi persyaratan perawatan bayi baru lahir akan membantu Anda dan bayi Anda untuk memulai menyusui.

ASI adalah makanan yang sempurna untuk bayi yang baru lahir selama setidaknya enam bulan pertama kehidupannya. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian ASI terus menerus setidaknya selama 12 bulan, dan setelah itu selama yang diinginkan ibu dan bayi. Manfaatnya adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi melalui transfer antibodi ibu yang tidak bisa dilakukan oleh susu formula.

7. Seberapa sering bayi pergi ke kamar mandi, dan bagaimana saya bisa tahu jika ada masalah?
Dokter dapat memberitahu Anda apa masalah yang harus diperhatikan.

8. Kapan dan seberapa sering saya harus memandikan bayi saya?

Tanyakan dokter ketika Anda harus memandikan bayi Anda untuk pertama kalinya dan tentang kebersihan dasar bayi. Jangan berlebihan, bayi baru lahir tidak memiliki kesempatan untuk menjadi sangat kotor. Mandi terlalu banyak dapat membuat iritasi kulit lembut.

9. Bagaimana saya bisa tahu apakah bayi saya mengalami ikterus (bayi kuning)? Apakah ada kondisi kesehatan lainnya yang harus diwaspadai?
Banyak bayi baru lahir mengalami ikterus ringan karena hati mereka tidak sepenuhnya berkembang. Tanyakan kepada dokter Anda tentang ikterus dan kondisi kesehatan bayi baru lahir.

10. Kapan saya harus menghubungi dokter?
Cari tahu apa gejala atau perilaku bayi yang Anda anggap tidak wajar lalu hubungi dokter.

(Sumber: http://www.detikhealth.com)

Iklan

MANA LEBIH DULU, TUMBUH GIGI, BICARA ATAU JALAN?

MANA LEBIH DULU, TUMBUH GIGI, BICARA ATAU JALAN?

Jalan, tumbuh gigi, dan bicara, punya masa perkembangan tersendiri meski kadang berjalan bersamaan.

Sering orang tua beranggapan, anak harus jalan dulu baru bisa bicara. Atau jika giginya muncul duluan, berarti kemampuan berjalannya muncul belakangan. Yang mana, sih, yang benar? “Ah, semua itu cuma mitos. Mungkin karena kebetulan saja giginya tumbuh lebih awal, baru bisa jalan,” kata Drg. Rachmatiah B, dari RS Gatot Subroto Jakarta. Hal senada diungkapkan dr. Waldi Nurhamzah, SpA dari FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.

“Semua itu harusnya dikembalikan pada konsep perkembangan yang dilalui anak.”

Pada anak, tonggak-tonggak perkembangan yang penting terbagi dalam beberapa bagian besar. Antara lain perkembangan bahasa, psikososial, dan motorik. Perkembangan motorik dibagi lagi menjadi motorik kasar dan halus. “Kelihatan, kan, bahasa dan berjalan merupakan perkembangan yang terpisah, bukan dalam satu kelompok,” kata Waldi.

Berjalan masuk perkembangan motorik kasar, seperti halnya perkembangan berdiri, tegak dan melangkah. Jadi, kalau dibuat suatu garis perkembangan, masing-masing kelompok punya rentang waktu perkembangan sendiri-sendiri.

Karena itulah tak bisa disimpulkan, jika kemampuan bicara muncul lebih dulu, maka berjalannya belakangan atau sebaliknya. “Bisa saja keduanya berlangsung berdekatan. Jadi, enggak bisa dikatakan, mana yang lebih dulu, jalan atau bicara karena memang keduanya tidak bisa diperbandingkan.” Masing-masing berasal dari garis perkembangan berbeda dan punya tenggang waktu sendiri-sendiri, yaitu kapan paling cepat dan kapan paling lambat. Misal dalam hal bersuara riang, ada bayi yang di usia 1 bulan sudah dapat melakukannya. Padahal, biasanya baru pada umur 7 minggu bayi bisa melakukannya. Contoh lain, meraih barang rata-rata bisa dilakukan pada usia5 bulan.

LEWAT WAKTU, BERARTI ADA MASALAH

Yang jelas, dalam setiap tonggak perkembangan terdapat perubahan fungsi-fungsi otak. Yang tadinya belum bisa dilakukan oleh seorang anak, kini bisa. Itulah yang membedakan apakah suatu perkembangan dianggap sebagai tonggak atau bukan.

Menurut Waldi, berjalan dan bicara termasuk bagian dari tonggak perkembangan. Tak demikian halnya dengan tumbuh gigi. Cepat-lambatnya kemunculan gigi susu, tidak bisa dijadikan pedoman utama dalam melihat perkembangan anak. Hanya saja umumnya peristiwa kemunculan gigi sering dijadikan taksiran kasar usia anak. Misalnya, untuk anak usia 1 tahun, jumlah minimal giginya 2 buah.

Bagi orang tua dan juga terutama dokter, yang penting diketahui adalah batas akhir dari setiap perkembangan. Kalau lewat dari tenggang waktu yang dianggap normal dan anak belum bisa berjalan atau bicara, berarti ada masalah. “Makanya proses perkembangan ini harus dipantau oleh dokter dan juga orang tua sejak awal. Tanyakan selalu perkembangan anak kepada dokter atau petugas kesehatan yang berwenang. Saat ke klinik, jangan hanya untuk imunisasi dan mengukur BB serta TB saja, tapi juga tahap perkembangannya,” saran Waldi

Meski berjalan dan bicara bukan dalam satu kelompok yang sama, tapi dalam hal stimulasi, keduanya harus terus berjalan bersama sesuai dengan tahapan masing-masing. Jika stimulasi dilakukan satu per satu, misalnya anak tak diajari bahasa dan hanya motorik, “Mungkin nantinya dia terlambat bicara.”

Seorang anak dikatakan mengalami keterlambatan bila dia belum mencapai suatu kemampuan tertentu pada batas akhir dari range yang ditentukan.

Untuk keterlambatan bicara, bisa diketahui dari keterlambatan menyusun kata yang bermula dari keterlambatan menguasai kata dan sebelumnya dari keterlambatan mengeluarkan suara. Harusnya, di usia 12 bulan, rata-rata bayi sudah bisa mengucapkan 5-10 kata. Stimulasi berbahasa ini sendiri sudah bisa dilakukan sejak janin mampu mendengar.

Itulah, kata Waldi, pentingnya orang tua memahami range atau tenggang waktu dari tiap perkembangan sehingga stimulasi bisa dilakukan di waktu yang sesuai. Misalnya, tahu kapan anak bisa berdiri dan berjalan. Sebab, kalau dilakukan sebelum waktunya akan sia-sia saja. Contohnya, usia berjalan memiliki range sekitar usia 9-15 bulan.

Jika bayi dilatih sejak usia 2 bulan, maka mustahil membawa hasil. Bisa-bisa pertumbuhan kakinya malah terganggu.

BABY WALKER & JINJIT

Masih soal perkembangan berjalan, anak tak selalu harus mengalami proses merangkak sebelum bisa jalan. Sebab, kata Waldi, merangkak bukan merupakan salah satu tonggak perkembangan seperti halnya tengkurap, duduk, berdiri, dan berjalan. “Bisa saja bayi yang sudah masuk tahap duduk, langsung masuk ke tahap berdiri. Merangkak itu pun tak perlu dilatih karena kemampuan ini berkembang dari sikap telungkup dan gerakan keempat anggota tubuhnya (lengan dan tungkai) untuk bisa membuat langkah terkordinasi.” Saat masuk usia berjalan, orang tua lebih disarankan menatih anak dibanding menggunakan baby walker. Alat ini hanya membuat orang tua malas.

Untuk anak pun, tidak terlalu baik. Di baby walker, bayi mengayuh atau melangkahkan kakinya sehingga tak bisa diramalkan, kapan bayi betul-betul bisa mengayuhkan kakinya dengan kecepatan lambat atau cepat. Padahal, di rentang usia berjalan dari 9-15 bulan itu, tak mungkin kita mengawasinya setiap saat. Lalai beberapa detik saja, mungkin ia sudah “lari” dengan baby walkernya lalu menabrak sesuatu dan terbalik. Kemungkinan terjadinya trauma atau kecelakaan sangat besar. “Boleh saja pakai baby walker, tapi orang tua harus tetap ada di samping anak sambil memegangi keretanya.

Memang lebih sulit dibanding menatih.”

Selain itu, dengan baby walker anak jadi tidak menggunakan otot panggulnya secara optimal, karena dia hanya mengayuh sambil duduk. Sementara untuk berjalan, diperlukan keseimbangan otot-otot panggul. “Jadi, menatih lebih baik untuk melatih anak berjalan.” Caranya, bisa dengan menggunakan selendang yang diikatkan seperti ransel di badannya agar orang tua bisa mengendalikan gerakan anak. Bisa juga dengan memegang bagian bawah ketiaknya. Lalu lihat perkembangannya. Jika anak semakin mampu, pegang lengan atasnya, kemudian lengan bawah, dan tangannya, sampai kemudian bisa dilepas sendiri. Tak ada patokan harus berapa lama menatih anak. Orang tua harus memperhatikan sendiri pola perkembangan anaknya dari hari ke hari.

Hal penting lainnya, orang tua harus curiga jika di usia belajar jalan, si anak ternyata masih jinjit. Seharusnya di usia 9 bulan, jinjit sudah menghilang. Kemungkinan, ada gangguan di fungsi otaknya. Sementara otaklah yang mengatur kemampuan motorik otot kaki agar seimbang.

Sumber: Nakita

Serba Serbi Pertumbuhan Gigi

Serba Serbi Pertumbuhan Gigi

Pertumbuhan gigi tak bisa dirangsang dengan obat-obatan. Apalagi jika memang tidak ada benihnya. Sementara pada anak usia ini sangat tidak dianjurkan menggunakan sinar X untuk mengetahui ada tidaknya benih itu. “Lebih baik tunggu gigi muncul sampai usia berapa pun,” saran Waldi. Normalnya, gigi bayi mulai tumbuh di usia 6-7 bulan, yaitu 2 buah gigi depan bawah. Beberapa bulan kemudian, 2 buah gigi depan atas. Setelah itu gigi bawah di sebelahnya, kemudian bagian belakang. Sampai usia 1 tahun, jumlah gigi bervariasi pada setiap bayi. Mungkin ada yang 4 buah atau 8 buah. “Tergantung pada pola tumbuh gigi, faktor keturunan, serta gizi,” jelas Rachmatiah. Sampai usia 2 tahun, biasanya gigi anak sudah komplet sebanyak 20 buah, yaitu 10 di atas dan 10 di bawah.

Tumbuhnya gigi dipengaruhi pula oleh faktor keturunan. Mungkin salah satu orang tuanya punya sifat resesif atau tidak dominan dalam hal pola tumbuh gigi yang lambat sehingga dalam satu keluarga, mungkin saja satu anak memilikipertumbuhan gigi yang normal dan anak lainnya terlambat.

Sebetulnya, pembentukan gigi bayi sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu di usia kehamilan 6 minggu, berupa benih gigi. Bila orang tua ingin gigi susu anaknya bagus, sewaktu hamil gizi ibu harus bagus. Ini bisa didapat dari sumber makanan seperti susu, sayuran dan buah. Setelah bayi lahir, gizi yang masuk tak berpengaruh lagi pada pertumbuhan gigi susunya karena sudah terbentuk. Namun, gizi pasca lahir ini akan berpengaruh pada gigi tetapnya nanti.

Anak yang sering sakit, pertumbuhan giginya lambat. Begitu pula jika bayi malas mengisap karena gerakan otot mulut sebetulnya merangsang pertumbuhan gigi. Andai gigi anak terlambat muncul sementara usianya mengharuskan dia makan makanan padat, jangan hentikan pemberiannya. Anak bisa mengunyah makanan lembut dengan gusi yang sudah beradaptasi. Malahan, mengunyah makanan semi padat dan padat akan merangsang pertumbuhan gigi anak, dengan catatan memang ada benih giginya. Yang penting, ikuti saja proses alamiah kemampuan pencernaannya seiring pertambahan usia.

Rewel & Demam Saat Gigi Muncul

Macam-macam reaksi bayi saat giginya tumbuh. Ada yang jadi rewel, ngeces melulu, demam, atau biasa saja. Semua tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing anak. Kalau daya tahan tubuhnya kurang atau sensitif, anak bisa demam dan rewel.

Yang terjadi pada saat gigi susu muncul adalah gusinya pecah dan menimbulkan rasa sakit serta tak nyaman. Selama itu, gusi akan tampak sedikit kemerahan. Belum lagi kalau kondisi mulutnya tidak bersih, bisa terinfeksi kuman sehingga demamnya berlanjut atau bertambah. Tapi jika daya tahan tubuhnya baik, kondisi mulutnya bersih, gusinya bagus, aktivitas mengunyahnya bagus, maka anak tak akan mengalami gangguan berarti ketika giginya muncul.

Untuk memperkecil risiko gangguan itu, sudah semestinya orang tua menjaga kebersihan mulut anak. Sehabis menyusui atau makan, bersihkan lidah dan gusinya dengan kain kasa yang dibasahi air matang agar tak ada kuman atau jamur yang tumbuh.

Bila anak demam dan orang tua meragukan penyebabnya adalah gigi yang akan muncul, untuk pastinya bawa ia ke dokter anak. Kalau memang masalahnya karena tumbuh gigi, biasanya dokter akan memberi obat penurun panas saja.

Perkembangan Bicara Anak

Menurut psikolog Indri Savitri, perkembangan bahasa si kecil dimulai ketika baru lahir. Mulanya ia berkomunikasi lewat tangisan. Usia 1,5-3 bulan, ia mulai mengeluarkan bunyi-bunyi seperti, “au…” Di usia 6-10 bulan mulai babbling dengan mengeluarkan suara berupa gabungan huruf mati dan hidup seperti, “ma…” atau “ba…” Usia 10-14 bulan mulailah muncul kata, bermakna dan bertujuan. Misalnya, ia akan mengucapkan, “Ma..!” sambil tangannya menunjuk ke suatu objek. Nah, untuk menstimulasi kemampuan bicara ini, orang tua harus rajin mengajaknya bicara, entah sambil bercanda kala menyusui atau di kesempatan lainnya.

Mainan Gigit -Gigitan Tak Wajib

Bayi yang akan muncul giginya biasanya suka menggaruk atau menyentuh bagian mulutnya. Hal itu disebabkan rasa tak nyaman dan mungkin juga rasa gatal yang timbul. Untuk mengatasinya, bayi senang memasukkan apa saja ke mulutnya. Namun, sejauh mana rangsangan tadi berpengaruh, tidak dapat diprediksi.

Jadi, penggunaan mainan tadi tidak wajib. Bagaimanapun juga, pertumbuhan gigi bayi tergantung pada pola tumbuhnya. Ada anak yang memang tidak terlalu aktif memasukkan sesuatu ke mulutnya, tapi karena pola tumbuh giginya normal atau cepat, maka giginya pun akan tumbuh dengan baik.

Sumber: Email & Milis

TUMBUH GIGI

TUMBUH GIGI

“DOK ANAK SAYA KOK, GIGINYA BELUM TUMBUH JUGA?”

Pertanyaan ini kerap diajukan oleh para ibu. Terlebih bila si kecil usianya sudah hampir setahun tapi belum juga tumbuh gigi. Nah, bagaimana sebenarnya pertumbuhan gigi bayi.

Sering kita jumpai bayi belum juga tumbuh gigi satu pun padahal usianya sudah hampir setahun. Orang tua pun cemas. Soalnya, bagaimana nanti si bayi bisa makan makanan padat. Namun tak jarang pula kita jumpai bayi yang sudah tumbuh gigi di usia sedini1-1,5 bulan. Malah ada yang sejak lahir sudah punya gigi. Napoleon Bonaparte, misalnya, begitu lahir sudah punya dua gigi seri bawah.

GIGI SUSU

Pertumbuhan gigi, terang Prof. DR. Ismu Suharsono Suwelo, Drg, SpKGA., sudah dimulai sejak bayi berada di kandungan, yakni sejak janin berusia 4 minggu sampai bayi lahir. Karena yang dimaksud tumbuh gigi adalah pertumbuhan dari dalam, bukan dalam arti keluar giginya. Sedangkan keluarnya gigi yang terjadi setelah kelahiran disebut erupsi gigi. “Jadi tumbuh gigi dan keluarnya gigi itu berbeda,” jelas Ismu.

Gigi, terangnya lebih lanjut, tumbuh dari epitel tulang. Mula-mula yang tumbuh ialah mahkota gigi yang berwarna putih dengan lapisan luar emailnya, lalu ke bawah ada dentin, ke bawahnya lagi ialah benak gigi(pulpa) yang menjadi tempat syaraf dan pembuluh darah, dan yang paling akhir ialah akar gigi.

Ada 2 macam gigi, yaitu gigi anak atau gigi susu dan gigi dewasa atau gigi tetap/permanen. Erupsi atau keluarnya gigi susu pertama terjadi di usia6-8 bulan. Umumnya diawali oleh keluarnya gigi seri tengah bawah, lalu secara berurutan gigi seri tengah atas, gigi seri lateral atas dan gigi seri lateral bawah, geraham susu pertama, gigi taring dan geraham susu kedua. lateral bawah, geraham susu pertama, gigi taring dan geraham susu kedua. Tapi erupsinya tak sekaligus, melainkan satu per satu dan kadang ada juga yang sepasang-sepasang.

Umumnya ketika anak berusia 1 tahun mempunyai 6-8 gigi susu (tapi kadang ada juga yang hanya 2 gigi walaupun tanpa disertai keluhan pertumbuhan) dan akan menjadi lengkap berjumlah 20 gigi susu (4 gigi seri atas-bawah, 2 gigi taring kanan-kiri di atas-bawah, dan 4 geraham kiri-kanan di atas-bawah) pada usia 18 bulan atau 2 tahun.

CEPAT-LAMBAT ERUPSI

Kendati erupsi gigi pertama terjadi pada usia 6-8 bulan, namun masih belum bisa dikatakan terlambat apabila di atas usia tersebut belum juga keluar gigi pertama. Karena, normalnya erupsi gigi terjadi pada usia 6-12 bulan. Lain halnya bila si anak sudah berusia lebih dari setahun tapi belum juga terjadi erupsi gigi, maka perlu diketahui penyebabnya. “Mungkin keterlambatan itu karena ada kelainan pertumbuhan gigi atau pertumbuhan gigi yang tak sempurna,” ujar Ismu. Misalnya, tak punya benih gigi, sehingga ditunggu sampai usia berapa pun tak akan ada erupsi.

“Tentunya kelainan ini akan tetap berlanjut sampai dewasa, ia tak akan mempunyai gigi kecuali bila dibuatkan gigi susu.” Tapi apa faktor yang menyebabkan terjadinya kelainan pertumbuhan ini, menurut Ismu, tak diketahui secara pasti dan bukan diakibatkan kekurangan suatu zat tertentu. Diduga, kelainan ini hanya ada pada daerah-daerah tertentu seperti pernah ditemui di suatu daerah di Sukabumi. “Ada juga ditemui kasus yang dikarenakan perkawinan, misalnya, keturunan satu kakek.”

Sementara erupsi gigi yang terjadi lebih dini juga dikatakan kelainan pertumbuhan, “karena seharusnya, kan, erupsi gigi itu menurut normal perkembangannya. Jadi kalau di luar normal perkembangannya, maka dikatakan perkembangannya. Jadi kalau di luar normal perkembangannya, maka dikatakan ada kelainan,” terang Ismu. Tapi tak semua gigi yang erupsinya lebih dini adalah betul-betul gigi dengan memiliki akar gigi. “Ada juga yang bukan gigi betulan tapi semacam epitel atau tonjolan dari gusi yang keras seperti gigi tapi tak ada akarnya.”

Nah, pada gigi yang erupsi dini ini mesti dilihat apakah mengganggu atau tidak. Kalau dianggap mengganggu, maka mesti dibuang. Tapi kalau tidak, ya, tak apa-apa. Yang dimaksud mengganggu, misalnya, gigi tersebut goyang karena memang belum mantap, sehingga si bayi merasa sakit dan membuatnya rewel. Tentunya kalau gigi tersebut goyang dikhawatirkan akan lepas sendiri sehingga bila tertelan oleh si bayi. Jadi, harus dicabut.

Begitupun bila sang gigi membahayakan si ibu pada saat menyusui. Karena gigi tersebut tajam dan akan membahayakan puting susu karena luka gigitan. “Jadi, bila gigi tersebut mengganggu sebaiknya dibuang saja. Toh, nanti akan tumbuh lagi,” kata Ismu.

Jika dikatakan bahwa gigi yang erupsinya lebih dini akan lebih cepat membuat si anak jadi ompong, itu karena gigi sudah berada lama dalam mulut sehingga sering terkena susu atau makanan. Hal ini tentunya berisiko besar untuk membuat gigi rusak dan berlubang sehingga cepat ompong bila tak dibersihkan sejak dini. Lagipula, anak kecil, kan, belum bisa membersihkan gigi sendiri. Orang tua pun belum bisa membersihkan gigi anak dengan baik.

Nah, faktor itulah yang menyebabkan gigi erupsi lebih dini jadi cepat ompong.

Juga tak ada hubungannya sama sekali bila erupsi gigi lebih dini berarti erupsi gigi selanjutnya akan lebih awal pula. “Bisa saja terjadi ada gigi yang erupsi lebih dini dan gigi selanjutnya tak ada karena tak ada benih giginya. Erupsi gigi itu sifatnya tak teratur.”

MERANGSANG ERUPSI GIGI

Biasanya bayi menjadi rewel kala tengah mengalami erupsi gigi. Karena, seperti diterangkan Ismu, erupsi gigi biasanya menimbulkan gejala demam yang tak terlalu tinggi atau dikenal dengan istilah sumeng. “Ini terjadi karena gigi akan menembus lapisan gusi yang keras, sehingga diperlukan suatu energi yang kuat. Nah, reaksi yang ditimbulkan tubuh itulah yang menyebabkan si bayi jadi sumeng.”

Selain itu, erupsi gigi juga menimbulkan gejala air liur mengences dan rasa gatal pada gigi. Itulah mengapa si bayi maunya menggigit-gigit sesuatu. Biasanya orang tua memberikan mainan plastik yang tak berbahaya untuk bisa digigit-gigit si bayi. Cara ini ternyata ada manfaatnya karena dapat merangsang erupsi gigi. “Ada suatu refleks yang mempercepat keluarnya gigi. Karena dengan menggigit-gigit, maka gigi yang runcing dari dalam akan menekan-nekan gusi sehingga mempercepat keluarnya gigi,” terang Ismu. Bila tak ada mainan yang bisa digigit, maka bisa diganti dengan wortel. Karena wortel agak keras, tak mudah putus dan yang pasti lebih murah.

Untuk merangsang erupsi gigi juga harus diperhatikan makanan yang dikonsumi bayi. Makanan tersebut harus mengikuti aturan dari dokter anak. memenuhi nutrisinya. Nutrisi ini berguna untuk tumbuh kembang dan merangsang

Misalnya, kapan saja diberikan makanan cair, makanan setengah padat dan makanan padat. “Pemberian makanan yang cukup sesuai aturan sebetulnya untuk pertumbuhan gigi dari dalam,” tutur Ismu

Pemberian vitamin untuk merangsang pertumbuhan gigi pada bayi juga bisa dilakukan sesuai anjuran dokter. “Ada zat yang dapat memperkuat gigi bayi, menjaga dan mencegah kerusakan gigi, yaitu zat fluor. Zat ini bisa diberikan pada ibu hamil sampai bayi lahir hingga berusia 10 tahun.”

RAJIN MEMBERSIHKAN GIGI

Sejak erupsi gigi yang pertama orang tua harus membersihkan gigi tersebut setiap habis menyusui, karena susu bisa menempel pada gigi dan berbahaya bagi kesehatan gigi. “Nanti di usia 1-2 tahun giginya bisa rusak dan berlubang kalau tak dibersihkan sejak awal,” kata Ismu. Juga bisa sampai berwarna hitam karena pengaruh dari sisa-sisa makanan yang menempel. Nah, kalau ini yang terjadi, berarti sudah ada kelainan.

Sebetulnya, lanjut Ismu, sebelum gigi erupsi pun si bayi sebaiknya sudah diajarkan merawat gigi. Caranya dengan orang tua membersihkan gusi-gusi si bayi pakai kain kasa atau kapas yang dibasahi air matang. Posisi yang paling enak dengan memangku si bayi dan mendekap kepalanya ke dada ibu.

Setelah giginya erupsi, gunakan sikat gigi khusus bayi. Sedikitnya dibersihkan sekali sehari tanpa memakai pasta gigi, dengan posisi kepala si bayi di pangkuan ibu. Setelah anak bisa berjalan barulah diajarkan menyikat gigi sendiri. Posisinya, ibu di belakang anak dan membantu anak menyikat gigi dari belakang. Gunakan sikat gigi khusus anak sesuai usianya dan pasta gigi yang mengandung fluor namun rasanya tak manis. Lakukan 2 kali sehari, sehabis makan pagi dan mau tidur malam.

Orang tua sebaiknya memilih model sikat gigi maupun pastanya menurut kesukaan anak. Kemudian cara menyikat giginya yang penting adalah bersih. Anak dibantu dalam menyikat gigi sampai kemudian ia bisa dilepaskan sendiri untuk menyikat gigi. “Sebaiknya kebiasaan membersihkan gigi ditanamkan oleh orang tua sejak dini, sehingga kelak dengan sendirinya kebiasaan ini akan terbentuk dalam diri anak.

Sumber: Email & Milis

Kiat Mengatasi Anak Susah Makan

Kiat Mengatasi Anak Susah Makan

Bila Balita Anda susah makan? Jangan emosi. Berpikirlah dengan tenang dan aturlah strategi. Berikut beberapa kiat yang bisa dimanfaatkan:

1. Bagi ibu yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas untuk menyuapi anaknya. Sebab, sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja.

2. Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang sesuai dengan usianya, dan buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain. Problem utama anak susah makan itu pada usia 6 bulan sampai 2 tahun.

3. Pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus dipegang atau disapa adalah anaknya. Jangan yang lain.

4. Jangan memaksa anak makan sampai mencekoki, mencubit atau bahkan memelototi. Bagaimana bila anak tidak mau sayur, tahu-tempe, dan makanan bergizi lainnya? Bila perlu sebaiknya anak ‘dilaparkan’ dahulu sambil kita siapkan makanan yang sudah kita programkan, nanti berangsur-angsur dia akan mau, tetapi memang perlu telaten, disiplin.

5. Sebaiknya sedini mungkin kita menerapkan penghargaan dan hukuman yang edukatif. Misalnya, pada waktu anak mau makan dipuji, diajak jalan-jalan, ciuman, pelukan. Bila tidak mau makan, katakan, misalnya, ibu atau ayah tidak mau lihat televisi bersama-sama, tidak mau jalan-jalan lagi. Jangan menggunakan kata² yang keras atau kasar.

6. Pada anak berusia setelah empat bulan-enam bulan, baik diberi bubur instan asalkan anak tak alergi susu. Setelah anak berusia enam bulan, lebih bagus membuat bubur sendiri, karena ada macam-macam pilihan sayuran dan lauk-pauk yang bisa mengurangi kejenuhan rasa. Misalnya, hati dengan bayam, kemudian wortel dengan tempe, kangkung dengan tahu, dan sebagainya. Namun, bila dengan makanan tersebut anak mengalami diare atau muntah maka menu harus dievaluasi dan diganti yang lain.

7. Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan seperti dimuntahkan, ini harus dimasukkan lagi. Prinsipnya bila makanan tersebut dimuntahkan, harus sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.

8. Pada kasus anak yang mengalami gangguan psikis yang manifestasinya pada lambung dengan muntah bisa teratasi kira-kira setelah tiga tahun. Tetapi, kasus seperti itu jarang dan tidak menjadi masalah asal kebutuhan gizi, kalori, lemak, proteinnya tercukupi.

Sumber: dr Soeroyo Machfudz SpA(K) MPH dari Yogyakarta