CINTA ini Untukmu Mama…

Cinta Ini Untukmu Mama

“Rosa, bangun… sarapanmu udah mam siapin di meja.”

Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali kau bisa mengingat, tapi kebiasaan mama ini tidak pernah berubah. “Mama sayang, gak usah repot-repot ma, aku sudah dewasa.” pintaku pada mama di suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.

Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bias mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku kesulitan memahami mama karena sempat kubaca pada sebuah artikel… orang yang lanjut usia bisa sangat sensitif dan cenderung bersikap kanak-kanak, tapi entahlah… Yang jelas niatku ingin membahagiakan malah membuat dia sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah berkata apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,”Ma, maafin aku kalu telah menyakiti perasaan mama. Apa yg bikin mama sedih?” Kutatap sudut-sudut matanya mama, di situ terlihat ada genangan airmata. Terbata-bata mama berkata,”Tiba- tiba mama merasa kalian tidak lagi butuh mama. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan buat kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri.”

Ah, ya Tuhan, ternyata buat seorang mama… bersusah payah melayani putra-putrinya ialah suatu kebahagiaan. Satu hal yang tidak pernah kusadari sebelumnya.. . Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tuaku menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kuberikan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mamaku bangga dan bahagia pada putrinya?

Ketika itu kutanya pada mama, ia menjawab,”Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi itulah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah merupakan kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kamu saat ini berperilaku sebagaimana harusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar matamu mengisyaratkan kebahagiaan disitulah kebahagiaan orang tua.”

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,”Ampuni aku ya Tuhan kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama minta sesuatu.” Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan… .

Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan ke siapapun. Ah, maafin kami mama… 18 jam sehari sebagai pekerja seakan tak pernah membuat mama lelah… Sanggupkah aku ya Tuhan?

-/-

“Rosa, bangun nak… sarapannya udah mama siapin di meja..”

Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kucium pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat, sambil kuucapkan,”Terima kasih mama, aku beruntung banget memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku bahagiakan memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku bahagiakan mama.” Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan.

Cintaku ini milikmu, mama.

Aku masih teramat sangat membutuhkan mama. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu.

-/-

Sahabat… tak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat,”Aku sayang padamu.” Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai.

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, ibu.. walau mereka tak pernah meminta. Percayalah kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

-/-

“Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama. Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMU… Titip mamaku ya Tuhan…”

-/-

Untuk dan oleh semua ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak-anak yang mencintai ibunya….

Iklan

Cerita Michael

Cerita Michael

Berikut ini adalah sebuah surat, yang ditulis oleh seorang pelaut muda untuk ibunya ketika ia dirawat di rumah sakit karena luka perang di Korea, tahun 1950. Surat itu tiba di tangan seorang pastor Angkatan Laut yang membacakannya di hadapan 5000 pelaut di Pangkalan Angkatan Laut San Diego, tahun 1951.

Pastor Angkatan Laut itu telah berbicara dengan pelaut muda dimaksud, ibunya, dan dengan Sersan dari patroli yang bertugas. Pastor Angkatan Laut ini, Pastor Walter Muldy, meyakinkan semua orang yang bertanya, bahwa cerita ini adalah nyata. Surat ini pernah dibaca sekali di tahun 1960 di sebuah stasiun radio di Midwestern pada saat Natal. Kini kami menghadirkan surat itu di sini dan kami biarkan surat itu untuk bisa menempatkan nilai-nilainya sendiri.

Ibu Yang Terkasih,

Saya tak berani menulis surat ini ke orang lain selain kepada Ibu karena tak ada orang yang bakal mempercayainya. Mungkin Ibu juga akan merasa sulit untuk mempercayainya, tapi saya harus menceritakan hal ini ke seseorang.

Pertama-tama, saya sekarang sedang di rumah sakit. Jangan khawatir, Ibu dengar saya, jangan khawatir. Saya terluka, tapi saya baik-baik saja sekarang. Dokter mengatakan kalau saya bisa bangun dan berkeliling dalam waktu satu bulan. Tetapi, bukan itu yang ingin saya ceritakan pada Ibu.

Ibu ingat, ketika saya bergabung dengan Angkatan Laut tahun lalu; ingat ketika saya pergi, bagaimana Ibu berkata pada saya untuk selalu berdoa kepada St. Michael, setiap hari? Ibu sebetulnya tidak perlu mengatakan hal itu. Semenjak itu, saya ingat kata-kata Ibu untuk selalu berdoa kepada St. Michael, Sang Malaikat Tertinggi. Ibu bahkan memberikan saya nama itu. Saya selalu berdoa kepada St. Michael. Ketika saya tiba di Korea, saya bahkan berdoa lebih keras. Ibu ingat doa yang Ibu ajarkan pada saya? “Michael, Michael dari kesatuan balatentara yang menghiasi surga…” Ibu tahu kelanjut-annya. Saya mengucapkan doa itu setiap hari, kadang-kadang ketika saya sedang berbaris atau beristirahat, tetapi selalu sebelum saya pergi tidur. Saya bahkan mengajak beberapa teman saya untuk berdoa itu.

Suatu hari, saya mendapat tugas di barisan depan. Waktu itu kami sedang mengintai musuh. Saya bergerak perlahan dalam cuaca yang sangat dingin; napas saya seperti asap cerutu. Saya pikir saya tahu tiap orang yang sedang patroli, ketika di sebelah saya ada seorang pelaut yang belum pernah saya temui. Dia lebih besar dari seluruh pelaut yang pernah saya lihat. Tingginya lebih dari 6 kaki 4 inci dan badannya proporsional. Hal itu membuat saya merasa aman berada dekat orang yang bertubuh tinggi besar seperti itu.

Bagaimana pun juga, di sanalah kami susah payah berjalan. Sebagian patroli menyebar. Untuk memulai pembicaraan, saya berkata, “Dingin ya”, lalu saya tertawa. Saya berbicara mengenai cuaca di tengah-tengah kemungkinan terbunuh dalam tiap menitnya!

Teman seperjalanan saya kelihatannya mengerti. Saya dengar dia tertawa kecil. Saya memandangnya, “Saya belum pernah melihat kamu sebelumnya. Saya pikir saya sudah tahu setiap orang berseragam di sini.”

“Saya baru saja bergabung,” dia menjawab, “Nama saya Michael.”

“Begitu ya,” Saya berkata terkejut, “Itu juga nama saya.”

“Saya tahu,” katanya dan kemudian mulai berdoa, “Michael, Michael dari pagi…”

Saya sangat tercengang sampai tidak bisa berkata apa-apa selama semenit. Bagaimana dia tahu nama saya, dan doa yang Ibu ajarkan pada saya? Lalu saya tertawa pada diri saya sendiri, setiap orang berseragam di sini tahu mengenai saya. Kan saya pernah mengajarkan doa tersebut pada setiap orang yang mau mendengarkannya. Maka terkadang, mereka juga menghubung-hubungka n saya sebagai St. Michael.

Tak satu pun dari kami berbicara selama beberapa saat, ketika kemudian dia memecah kesunyian.

“Kita akan mempunyai masalah di depan.” Orang ini pasti kondisi fisiknya sedang bagus karena ketika dia bernapas, saya tak dapat melihat napasnya. Napas saya keluar bagai kabut. Tak ada senyum tersungging lagi dari pria itu sekarang. Masalah di depan, saya berpikir pada diri saya sendiri; dengan seluruh musuh di sekitar kita, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.

Salju mulai turun dalam butiran-nya yang tebal-tebal. Dalam sekejap, seluruh sisi kota sudah tertutup salju, dan saya berbaris dalam kabut putih dari butiran-butiran salju yang basah dan lengket. Teman seperjalanan saya menghilang.

“Michael!” Saya berteriak cemas. Saya merasakan tangannya di tangan saya; suaranya kuat. “Sebentar lagi ini akan berhenti.”

Ramalannya terbukti benar. Dalam beberapa menit salju berhenti tiba-tiba seperti waktu mulainya, matahari bagaikan sebuah pelat yang bersinar terang. Saya menengok ke belakang untuk melihat sebagian patroli. Tidak ada orang dalam pandangan saya. Kami kehilangan mereka waktu salju tebal turun. Saya melihat ke depan ketika kami melewati sebuah tanjakan kecil.

Ibu, jantung saya berhenti. Mereka ada tujuh, tujuh musuh berseragam celana panjang, jaket dan topi yang lucu. Hanya saja tidak ada yang lucu dari mereka sekarang. Tujuh senapan diarahkan ke kami.

“Tiarap, Michael!” Saya berteriak, dan menghantam bumi yang membeku. Saya mendengar senapan-senapan itu menembak secara hampir bersamaan. Saya mendengar desingan peluru-pelurunya. Michael masih tetap berdiri.

Ibu, musuh-musuh itu tak mungkin salah sasaran, tidak dalam jarak itu. Saya menunggu untuk melihat Michael benar-benar kehabisan napas, tetapi dia tetap berdiri, tidak bergerak terhadap tembakan-tembakan yang mengarah padanya. Dia lumpuh karena ketakutan. Kadang-kadang itu terjadi, Bu, bahkan kepada yang paling berani sekali pun. Dia seperti seekor burung yang dikejutkan oleh seekor ular. Paling tidak itu yang kemudian terpikir oleh saya. Saya melompat untuk menarik dia ke bawah dan saat itulah saya mendengar tembakan. Saya tiba-tiba merasakan panas di dada saya. Saya bahkan sempat berpikir apakah ini rasanya jika tertembak. Sekarang saya tahu.

Saya ingat saya merasakan tangan-tangan yang kuat melingkupi saya, tangan-tangan yang membaringkan saya dengan hati-hati sekali di sebuah bantal salju. Saya membuka sepasang mata saya, untuk pandangan yang terakhir. Saya pikir saya sedang sekarat. Malah mungkin saya sudah mati. Saya ingat waktu itu saya berpikir, ini tidaklah terlalu buruk.

Mungkin saya sedang memandang matahari. Mungkin saya sedang dalam keadaan shock, tetapi sepertinya saya melihat Michael berdiri tegak kembali, hanya saja kali ini wajahnya bersinar dengan sangat megah.

Seperti yang saya katakan, mungkin karena matahari di mata saya, dia kelihatan berubah setiap kali saya melihatnya. Dia bertumbuh lebih besar, tangan-tangannya terbentang lebar; mungkin karena salju yang turun lagi, saya melihat ada kecemerlangan di sekitar dia seperti sayap-sayap dari seorang malaikat. Di salah satu tangannya ada sebuah pedang, pedang yang bergerak cepat dengan sejuta cahaya.

Itulah hal terakhir yang saya ingat sampai sebagian teman-teman saya datang dan mendapatkan saya; saya tidak tahu berapa lama telah berlalu. Kadang-kadang rasa sakit dan demam saya bisa hilang untuk sesaat. Saya ingat mengatakan pada mereka akan adanya musuh di depan.

“Michael, engkau dimana?” saya bertanya. Saya lihat mereka saling berpandangan. “Siapa yang dimana?” tanya salah seorang di antara mereka.

“Michael, pelaut yang besar itu. Saya sedang berjalan dengan dia tepat sebelum hujan badai salju menghantam kita.”

“Nak,” Sersan berkata, “Kamu ti-dak sedang berjalan dengan siapa pun. Saya mengawasimu setiap saat. Kamu bergerak terlalu jauh. Saya baru saja mau memanggilmu untuk kembali, ketika kamu menghilang di tengah salju.” Dia memandang saya dengan penuh curiga. “Bagaimana kamu melakukan hal itu, Nak?”

“Bagaimana saya melakukan apa?” saya bertanya setengah marah, tanpa memikirkan luka saya. “Pelaut itu bernama Michael dan saya baru…” “Nak,” kata Sersan dengan ramahnya, “Saya sendiri yang memilih orang-orang berseragam di sini dan tidak ada Michael yang lain di kesatuan kita. Hanya kamu satu-satunya Mike di sini.”

Dia jeda untuk semenit, “Bagaimana kamu melakukannya, Nak? Kami mendengar beberapa tembakan, bukan dari senapanmu, dan tak ada satu pun petunjuk mengenai bagaimana tujuh musuh itu bisa berada di lembah sana.”

Saya tidak berkata apa-apa; apa yang dapat saya katakan? Saya hanya dapat memandang mereka dengan mulut terbuka karena heran.

Setelah itu, Sersan berbicara lagi. “Nak,” dia berkata dengan hati-hati, “Setiap orang dari ketujuh musuh itu terbunuh oleh sambaran pedang.”

Hanya itu yang mau saya ceritakan pada Ibu. Seperti yang saya katakan, itu mungkin karena sinar matahari yang mengenai mata saya, mungkin karena demam atau sakit yang saya rasakan, tapi itulah yang terjadi.

Salam Sayang,

Michael

Sumber: Majalah AVE MARIA edisi AM-53, Maret-April 2009

Penterjemah: Ursula Brigitta Tiwow

Strategi Pastoral Gembala Baik Hendaknya Menggunakan Data

uskup-julius-kardinal-darmaatmadja-sj1“Strategi gembala yang baik dalam berpastoral di lingkungan hendaknya menggunakan data.” Demikian penegasan Bapak Uskup Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ saat menyumbangkan catatan akhir dalam Hari Belajar Komisi-Komisi dan Pantap Pemikat KAJ, Sabtu 14 Maret 2009 di Aula Katedral Jakarta. Untuk itu, beliau mengharapkan setiap Ketua Lingkungan mampu membangun data lingkungan, misalnya dalam tabel: nama lingkungan, jumlah umat, aktivitas umat (misa, pendalaman iman/Kitab Suci, ziarah, perayaan-perayaan), dsb.

Bapak Uskup juga menyetujui sejumlah rekomendasi agar Komisi-komisi keuskupan meningkatkan kerjasama dengan semua lingkungan untuk menanggapi problematika lingkungan yang berbeda-beda konteksnya, misalnya dengan program pendidikan ketua/pengurus lingkungan. “Saya setuju Komisi-Komisi membuat modul (pendidikan ketua/pengurus lingkungan) tapi harus mengikutsertakan seksi di paroki dan ketua lingkungan sesuai dengan kekhasannya masing-masing. Dengan demikian modulnya lebih aplikatif dan kontekstual. Jangan membuat modul untuk seluruh keuskupan hanya demi gampangnya saja. Lalu, kalau sudah ada modul, baiknya dicoba dulu, jangan langsung diterapkan,” pesan beliau.

Sebaliknya, Bapak Uskup juga mengharapkan agar lingkungan-lingkungan berbenah diri. “Lingkungan perlu membuat susunan pengurus yang memiliki seksi-seksi yang sepadan dengan komisi-komisi tingkat keuskupan. Selain agar terjadi kerja sama tim (tidak semua permasalahan ditangani ketua lingkungan), kepengurusan semacam itu juga memudahkan jalur kerja sama keuskupan-paroki-lingkungan,” jelas beliau.

Sumber : http://kaj.or.id

Menjadi “Gembala Baik” di Lingkungan

Agar mampu memberdayakan dan menggerakkan umat, ketua dan pengurus lingkungan perlu memiliki banyak kemampuan, misalnya berkomunikasi (public speaking), manajemen organisasi, membuat kegiatan yang nyaman untuk diikuti umat, berbagi tanggung jawab, dsb. Untuk itulah Komisi-Komisi dan Pantap Pemikat KAJ perlu bekerja sama dengan paroki-paroki mengembangkan kemampuan para ketua dan pengurus lingkungan. Pelajaran itulah yang dihasilkan dalam Hari Belajar Komisi-Komisi dan Pantap Pemikat KAJ di Aula Kecil Paroki Katedral, Sabtu, 14 Maret 2009.

Kegiatan bertema “Mewujudkan Semangat Pastoral Gembala Baik di Lingkungan” tersebut diikuti oleh 37 utusan Komisi-Komisi dan Pantap Pemikat dan dihadiri Bapak Uskup Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ, beserta para staf beliau. Sebagai pelayan umat di tingkat Keuskupan, mereka belajar dari dua narasumber Antonius Inggil Paripurnanto dan Apollinaris, yang dimoderatori oleh Fr. Diakon Stefanus Tommy Octora Agung Surya.

Bapak Inggil dan Bapak Aris, begitu mereka akrab disapa, membagikan banyak pengalaman menggerakkan umat di tingkat lingkungan. Bapak Inggil adalah mantan ketua lingkungan St. Thomas Rasul di Paroki Pasar Minggu (Keluarga Kudus), sekarang Sekretaris II Dewan Paroki. Sedangkan Bapak Aris adalah Ketua lingkungan St. Maria IV di Paroki Ciledug (St. Bernadet)

Tantangan dan Siasat

 Menjadi gembala yang baik di lingkungan berarti mengupayakan jangan sampai satu umat pun “hilang” dari perhatian dan pendampingan Gereja. Ini bukan tanggung jawab mudah bagi ketua lingkungan seperti Bapak Inggil, yang mendampingi umat tak kurang dari 70 KK. “Domba yang hilang, dengan alasan apa pun, memiliki rasa enggan untuk berkumpul bersama karena adanya kebekuan atau penghalang,” jelas Bapak Inggil. “Untuk itu,” lanjutnya, “kami siasati (tantangan itu) dengan membuat event informal yang membuat suasana nyaman, misalnya dengan ziarah-rekreasi. (Kegiatan) ini menjadi sebuah icebreaking (pemecah kebekuan suasana).”

Kondisi umat yang sangat majemuk juga menjadi tantangan tersendiri bagi ketua lingkungan seperti Bapak Aris. “Ada kesenjangan ekonomi, sehingga umat yang kurang mampu merasa minder jika diajak bergabung dengan mereka yang lebih mapan,” jelasnya. Apalagi, ia mendampingi umat dalam situasi masyarakat yang kurang “ramah” pada kehadiran Gereja Katolik di Ciledug. Banyak umat tidak berkenan rumah mereka dijadikan tempat doa lingkungan karena takut. Untuk itu ia bersiasat mengunjungi umat secara “door to door”, misalnya melawat mereka yang sakit dan menggalang dana solidaritas. Atau, mengadakan ibadat dengan berdoa singkat tanpa nyanyian.

Namun, di luar itu semua, yang terus mereka disadari adalah pentingnya kekuatan doa. “Doa menjadi kekuatan dalam mengemban tanggungjawab kami sebagai ketua lingkungan,” tegas Bapak Inggil.

Rekomendasi: Pendidikan Ketua Lingkungan

Belajar dari pengalaman konkret di lingkungan-lingkungan tersebut, Komisi-komisi dan Pantap Pemikat KAJ merekomendasikan suatu program pendidikan bagi para ketua dan pengurus lingkungan. Program tersebut terbuka untuk diikuti seluruh ketua lingkungan di KAJ, diselenggarakan secara periodik dan terus-menerus (bukan hanya saat menjelang pergantian pengurus), dan dilengkapi modul-modul yang sesuai kebutuhan yang beragam. Setiap Komisi dan Pantap Pemikat bisa menyumbangkan kekhasan karyanya dalam program kerja sama tersebut.

Sumber : http://kaj.or.id

Ternyata Ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN


Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai.

Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih menyenangkan.

Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu selama bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan, karena ia tetap ingin kamu main kereta api itu.

Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. Karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil, tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.

Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi.

Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai menipis…. jadi dia menyalahkan tukang cukurnya menggunting terlalu banyak di puncak kepala (*_~).

Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski telah memutih, agar kau bisa “melihat” para malaikat bergelantungan di sana dan agar kau selalu bisa mengenalinya.

Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru.

Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.

Ayah benar-benar senang membantu seseorang… tapi ia sukar meminta bantuan.

Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya.

Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?…. mmmmhhh…” tidak terlalu mengecewakan” (^_~).

Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu- satunya dalam keluarga yang dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill. (*_~).

Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.

Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam… walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati.

Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.

Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.

Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.

Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu dihari pertama masuk sekolah

AYAH ITU MURAH HATI…..

Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan…. .

Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater kesayangannya. ….

Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka…..

Ia menghentikan apasaja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara…

Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya….

Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. .. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu….

Ayah akan berkata “tanyakan saja pada ibumu” ketika ia ingin berkata “tidak”.

Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin

Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepregok menghisap rokok dikamar mandi.

Ayah mengatakan “tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan”

Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya….

Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri….

Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

Ayah mengira seratus adalah tip..; Seribu adalah uang saku..; Gaji pertamamu terlalu besar untuknya…

Ayah tidak suka meneteskan air mata …. ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis). Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu…ketika kau mimpi akan dibunuh monster… tapi…..ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

Kalau tidak salah ayah pernah berkata :” kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya”

Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: “jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu”

Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan: “jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu”

Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu….

Ayah bisa membuatmu percaya diri… karena ia percaya padamu…

Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik….

Dan terpenting adalah… Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.

Dan untuk semua yang sedang merindukan Ayah, ssssssssttt…!

Tau gak siii? Ternyata ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN



Sumber: milis





“Barangsiapa terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu”

“Barangsiapa terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu”

(Yes 1:10.16-20; Mat 23:1-12)

“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid- Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat 23:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Para pemimpin, atasan atau pejabat pada umumnya ketika memberi pengarahan atau berjanji, apa yang disampaikan atau dijanjikan bagus dan baik, namun mereka belum tentu melaksanakan atau menghayati apa yang mereka katakan atau janjikan. Apa yang mereka lakukan bersifat formalistis atau liturgis dan tidak pernah menjadi kenyataan atau terwujud dalam diri mereka sendiri, mereka melakukannya hanya untuk mencari kehormatan duniawi. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya”, demikian sabda Yesus. Kita dipanggil untuk saling melayani dan mengabdi alias membahagiakan dan menyelamatkan. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”. Kami berharap dan mengingatkan kepada siapapun yang merasa terbesar dalam hidup atau kerja bersama untuk hidup dan bertindak melayani, menjadi teladan dalam.hal melayani. Kita dapat meneladan Yesus yang datang untuk melayani bukan dilayani. Maka hendaknya jika merasa terbesar dalam hidup atau kerja bersama ‘turba’, turun ke bawah, untuk melihat kenyataan konkret yang ada, dan dimana ada yang tidak baik atau selamat kita perbaiki dan selamatkan. Dalam menghayati kebesaran atau kepempinan hendaknya dihayati ‘kepemimpinan partisipatif’, ‘bottom -> up’ bukan ‘top -> down’. Dengan kata lain mereka yang terbesar atau menjadi pemimpin hendaklah mendengarkan mereka yang dipimpin atau dibawahi atau dilayani, serta kemudian menanggapi apa yang mereka dambakan dan harapkan demi kebahagiaan dan keselamatan bersama.

Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatan mu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda” (Yes 1:10.16-17). Baik pemimpin atau rakyat, pembesar atau anggota, atasan atau bawahan dipanggil untuk mendengarkan dan memperhatikan firman dan pengajaran Allah. Untuk itu kiranya kita harus mengusahakan dan memperdalam penghayatan keutamaan kerendahan hati atau menghayati nasihat untuk ‘berhenti berbuat jahat, belajar berbuat baik, mengusahakan keadilan, membela hak anak-anak yatim dan memperjuangkan perkara janda-janda’.. Anak-anak yatim dan para janda memang sering kurang memperoleh keadilan atau kebaikan, melainkan sering malah menjadi bahan gunjingan atau ngrumpi/ngrasani, yang berarti melecehkan dan merendahkan mereka. Anak-anak yatim atau janda pada umumnya mengalami kekurangan, yaitu kasih sayang dari ‘yang terkasih’, maka ketika mereka menjadi bahan ngrumpi yang tidak lain pelecehan, mereka semakin menderita. Dalam kehidupan bersama mereka, anak-anak yatim dan janda, kiranya merasa lebih kecil daripada yang lain, anak-anak yang masih memiliki orangtua atau para isteri yang dikasihi para suaminya. Maka hendaknya anak-anak yang masih memiliki orangtua yang penuh kasih sayang atau para ibu/isteri yang masih dikasihi suaminya, dengan rendah hati melayani rekan-rekannya, anak-anak yatim maupun para janda, berbuat baik kepada mereka dan jauhkan aneka bentuk pelecehan atau perendahan bagi mereka.

“Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu….Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.” (Mzm 50:21.23)

Jakarta, 10 Maret 2009

Romo Maryo