Nathan – Dunia dalam sepotong roti

Hentikan sejenak segala kegiatan Anda…,

Hentikan sejenak yang ada dalam pikiran Anda…,

Lihat dan perhatikan…

DUNIA DALAM SEPOTONG ROTI

Tanpa politik…,

Tanpa berita ekonomi…,

Tanpa berita perang dan kekerasan….,

Walau bising suara disekitar…,

hanya sepotong roti di tangan…

Damainya dunia ini….

Iklan

Nathan – Naik Kereta Api

Naik Kereta Api… Tut… Tut…. Tut….

25 Des’10

Nathan – Panjat Tali 01

Telaga Jambu, 25 Desember 2010

Sakramen Permandian

Kata ‘sakramen’ berasal dari Bahasa Latin sacramentum yang secara harfiah berarti “menjadikan suci”. Kata baptis berasal dari bahasa Yunani βάπτειν, yang arti longgarnya “berendam atau mandi” tapi lebih tepatnya berarti “Berendam di air seluruhnya, sampai air menutupnya.” Baptisan sendiri dikenal sebagai ritual inisiasi Kristen yang melambangkan pembersihan dosa.

Minggu, 04 Nopember 2007 Nathan menerima Sakramen Permandian di Gereja St. Stefanus Cilandak. Menjelang siang Nathan, Bunda dan Ayah dijemput oleh Yang Uti & Yang Kakung untuk ke Gereja. Disana telah menunggu Bp. Joseph Ganis yang akan menjadi Bapak Wali Babti (sekaligus Photografernya, soalnya Om Agung berhalangan sich..). “Nathanael Priyasha Kurniawan, Aku membabtis engkau dengan nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin” brr.. Dingin namun menyejukkan saat air babtis pertama menyentuh kulit kepala Nathan yang masih plontos. Puji Tuhan, Saai ini Mas Nathan resmi menjadi anggota Gereja dan Murid Kristus.

Panggil Aja: Nathanael

Written by Oom Agung
Monday, 01 October 2007

NATHANAEL PRIYASHA KURNIAWAN

inilah cerita di balik namanya..

( ini menurut Oom Agung,loh )

Nama”Nathanael” itu sudah cukup lama “disimpan”  sama Bapak-Ibunya. Image
“Karunia dari Allah” demikianlah kira-kira artinya.
{ “gift of God” (from Hebrew natan “he gives” + el “God”)}.. surname dari St. Bartolomeus.

Si Nathanael memang “sebuah Karunia”. Setelah penantian hampir 2 tahun, setelah 2 kali bulan madu, setelah harus njajal Gunung Gede Wink

Perjalanan indah dan penuh cerita, yang mereka lalui saat itu.

Dan 5 September, pagi itu..
waktu Si Baby masih dimandiin sama suster-suster di Klinik Bidan Dien,
Si Ibu -dengan wajah kuyunya, sehabis lelah melahirkan- bilang sama Oom Agung:
“Cil, cariin nama dong buat anak gw.”
Dia hanya minta nama dari “bahasa sansekerta”, kalo artinya – terserah aja, yang penting: yang bagus!

Oom Agung keluar dari ruang bersalin.. berdiri di pinggir jendela kaca di luar ruang perawatan bayi.
Ada 3 nama yang terlintas saat itu di kepala.
Di”bisik”nya di telinga Jabang Bayi.. yang meng-angguk pada pilihan nama yang pertama:

Sample Image Priyasha

Nama yang sebenarnya sudah “muncul” saat angin pagi itu berhembus lembut menyambut kelahiran “Sang Karunia Tuhan”.

“Harapan yang Indah”, demikianlah arti nama maskulin itu, seperti pagi hari yang selalu menjadi harapan baru bagi umat manusia.

Lalu, “Kurniawan“.. ini adalah nama Sang Ayah yang juga idiom dengan nama pertama Si Baby.

“Sungguh Karunia dari Allah yang lahir dari sebuah Harapan. Semoga pula dapat tumbuh menjadi Karunia dan Harapan bagi keluarga dan Umat Allah” Amin.

———

Jadi, begitu deh cerita namanya..

Kalo panggilannya; Bapak-Ibunya suka memanggilnya “Nathan”  …hmm Undecided

Kalo Oom Vian, awal-awal ini suka nyebut “Priya” …he..he..Smile

Tapi kalo Oom Agung, jelas lebih seneng manggil dia “Nael” !!
…kan beridiom juga dengan Noel-Sang Juru Selamat !! Wink

5 September, Pagi Itu…

Written by Oom Agung
Tuesday, 04 September 2007

Si Mami perutnya sudah mulai melilit.
Sore itu tidak bisa tidak harus berangkat ke Bidan Dien.
…-bukaan dua

MyDaddy, para YangTi dan Oom Vi yang pertama nemenin MyMom.

MyMom

Sepanjang sore hingga malam, MyMom Cuma bisa menahan nyeri dan tekanan dari kedung kandungan. Punggungnya mulai diurut-urut ringan untuk merangsang aku keluar.
Rasanya pasti sakit sekali.
Wajahnya acap terlihat meringis dan mengaduh pelan.

Tapi.. senyumnya tetap dipaksa mengembang,
meskipun Tante Len bawelnya gak tulung-tulung nasehatin SiMami ini-itu;
yang pasti sudah malas banget dia dengar Tongue out

Dan Aku… belum tiba pula saatnya untuk keluar.

Menjelang pukul 10 malam, kamar bersalin sudah disibukkan dengan persiapan-persiapan persalinan. MyMom mulai diberi “obat perangsang”. Dia ingin aku dilahirkan normal.

Di luar ada YangKung Bagyo, Oom Agung, Tante Lena, Oom Curry dan Oom Gandung. Sesekali para YangTi n MyDad bergantian keluar-masuk nemenin Mami yang mules-mulesnya semakin menjadi-jadi.

Bukan ku tak mau segera meredakan deritamu, Mom.. yang menahan hentakanku di perutmu. Tapi, waktuku memang belum kunjung datang.

Sejak tadi sore listrik PLN sudah 2 kali padam.

Para pengantar sudah tak lagi sabar. Dan banyolan-banyolan sudah mulai tak renyah terdengar. Akhirnya, sepakatlah kelompok ini dengan prediksi,”Mungkin baru besok siang bayinya lahir!” Seperti ada benarnya; kondisi tubuh MyMom tidak juga menampakkan adanya perkembangan. Dan sakitnya belum lagi bisa dihentikan.

Mati lampu untuk yang ke-5 kalinya. Oom Agung sendirian menunggu di luar. Ditemani 2 potong lilin dan setengah bungkus DjiSamSoe hasil paroh dua sama Oom Curry.

Di kejauhan, para kuli bangunan di atas gedung yang masih sekedar rangka, kian asyik bercengkrama dengan adonan molen dan merasa “jaya” karena di singgasana mereka sajalah lampu-lampu tembak itu menandas gulita malam.

Hampir pagi, suami Bu Bidan terbangun dan langsung sibuk dengan mesin diesel- pengganti listrik PLN. Suaranya meraung datar, memecah keisengan malam itu yang terasa sangat panjang. Tak lama sesudahnya, Kijang PLN lewat-kembali pulang- dan memupus kebanggaan Sang Diesel. Semua mulai “terang”.

Pukul 4 lewat, sebelum matahari pagi menampakkan senyumnya, Dokter Muda itu datang, keluar dari mobil silvernya. Tak berkata apa-apa dan langsung masuk ruang bersalin.

Hai Dok …!

(seolah kuhanya menunggu dokterku datang)..

… … …Yell

… …Yell

Innocent Puji Tuhan CryCry

Sample Image

Setengah lima, pagi itu,

ku diberi harapan baru..

menjadi putra Yandaku Happy – Bundaku Ani.